Senin, 25 Maret 2013

PETANI YANG LUGU DAN ISTERINYA

Di suatu pedesaan di wilayah Kerajaan Inggris, pada jaman dahulu, hiduplah seorang petani dan isterinya. Keluarga kecil ini mempunyai beberapa ladang yang tidak begitu luas, dan beberapa ekor kuda. Pada waktu itu bukanlah hal sulit untuk mendapatkan rumput-rumputan untuk pakan kuda-kuda mereka. Jadi walaupun mereka bukan keluarga kaya, kuda-kuda itu tumbuh sehat dan gemuk-gemuk. Pada saat pergi ke kota, biasanya petani ini menaiki salah satu kudanya. Sesekali beberapa tetangganya juga meminjam kuda-kuda itu.

Suatu ketika terbersit dalam pikiran petani tersebut untuk menjual salah satu kuda itu. Kemudian ia utarakan niatnya itu kepada isterinya.

“Apapun yang kau lakukan, kau selalu tahu yang terbaik ayah,” kata isterinya. “Ide ayah selalu bagus. Menjual salah satu kuda itu adalah cara yang tepat untuk mendapatkan uang. Dengan uang itu nanti kita bisa membeli berbagai macam kebutuhan, atau ditukar dengan barang lain yang berguna. Pergilah ke kota dan lakukan ide bagus ayah itu.”

Esok harinya, pagi-pagi sekali isteri petani sudah sibuk menyiapkan bekal suaminya untuk perjalanan ke kota. Jarak desa itu dengan kota memang cukup jauh sehingga keberangkatannya memerlukan bekal dan persiapan yang cukup. Tidak lupa pula dia siapkan pakaian yang bagus untuk dikenakan suaminya.

Dengan ciuman mesra sang isteri, petani itu menaiki kudanya dan berangkat dengan tanpa keraguan sedikitpun. Isteri petani  pun melepas suaminya dengan senyum dan keyakinan penuh pada suaminya, bahwa suaminya pasti akan melakukan hal terbaik.

Semakin siang jalanan yang dilalui petani dan kudanya semakin ramai oleh orang-orang yang juga ingin ke kota. Karena banyak yang mengendarai kuda, sapi atau gerobak, jalanan jadi berdebu.

Dalam perjalanan itu, petani tersebut bertemu dengan seseorang yang menuntun sapi yang cukup gemuk. Orang itu juga hendak pergi ke kota untuk menjual sapinya.

Melihat sapi betina yang gemuk itu, timbul pikiran dalam benak si petani untuk memilikinya,” Sapi itu bisa menghasilkan susu setiap hari sebelum akhirnya dijual suatu hari nanti. Isteriku pasti akan senang kalau kuda ini aku tukar dengan sapi itu.”

“Sobat, kau tahu harga kuda lebih mahal daripada sapi. Tetapi karena aku masih memiliki kuda yang lain, aku ingin mempunyai sapi betina. Maukah Anda bertukar sapi dengan kuda saya ini?” tanya petani itu kepada pemilik sapi.

Laki-laki pemilik sapi itu pun menyetujui ide si petani. Kemudian mereka pun bertukar dua binatang itu. Sekarang si petani membawa seekor sapi betina. Dia merasa sangat puas karena dia percaya keputusannya adalah pilihan yang sangat baik. Isterinya pasti akan sangat senang mendapatinya.

Karena hari belum terlalu siang, dan jalanan menuju ke kota cukup ramai, walaupun kudanya telah ditukar dengan sapi petani itu memutuskan untuk tetap pergi ke kota sekedar melihat-lihat kesibukan di kota.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, bertemulah petani dengan seorang laki-laki yang hendak menjual dombanya. Domba itu begitu sehat dan bersih, dengan bulu yang sangat lebat dan lembut.

Melihat domba yang menggemaskan itu, si petani tergoda ingin memilikinya.

“Domba yang sangat lucu, bisa menjadi peliharaan yang tinggal di dalam rumah. Bulunya sangat lebat, bisa dibuat untuk baju hangat, dan kemudian tumbuh bulu-bulu yang baru lagi. Memelihara dan merawat seekor domba jauh lebih mudah daripada seekor sapi,” pikir petani itu.

Petani pun kemudian menukar sapinya dengan seekor domba montok itu. Dan dengan langkah mantap sambil menuntun seekor domba, sang petani melanjutkan perjalanannya ke kota.

Suatu saat, bertemulah ia dangan seorang pemuda yang membawa seekor angsa yang lucu. Bulu-bulu angsa berwarna putih dan sangat bersih. Pemuda itu hendak menjual angasnya ke kota juga.

“Tampaknya memiliki angsa akan sangat menyenangkan. Bulunya putih bersih, dan dia bisa berenang di kolam depan rumah kami. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Maukah kau jika angsa itu aku tukar dengan domba ini?” tanya petani kepada pemuda pemilik angsa.

Tentu saja sang pemuda dengan senang hati menerima tawaran menggiurkan tersebut. Maka terjadilah pertukaran untuk yang ke sekian kalinya. Petani pun sangat yakin bahwa keputusanya sangat tepat. Dengan wajah berbinar-binar dan langkah tegap dia melanjutkan perjalanan bersama-sama orang yang hendak ke kota juga.

Kota sudah di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi petani sampai ke kota. Keramaian orang semakin bertambah hiruk pikuk. Pada saat itu ia melihat seorang penduduk yang tinggal di batas kota sedang memberi makan ayamnya di depan rumah. Ayam itu tampak sangat terbiasa dengan keramaian sehingga sama sekali tidak takut dengan orang-orang yang hilir mudik di jalanan.

Sang petani sambil menenteng angsanya melihat ayam tersebut dan timbullah dalam benaknya keinginan untuk memilikinya,” ayam betina yang sangat cantik dan jinak. Ayam itu bisa mencari pakan sendiri di sekitar kampung, dan akan menghasilkan banyak telur, mengeraminya dan mempunyai anak banyak.”

Dia pun mengutarakan keinginannya untuk bertukar ayam dengan angsanya kepada pemilik ayam. Pemilik ayam tidak keberatan. Dan sesaat kemudian petani tersebut telah memasuki kota yang semakin ramai dengan menenteng seekor ayam betina.

Karena terasa haus dan lapar, ia kemudian memutuskan untuk mempir ke sebuah restoran. Ia ingin minum segelas bir dan sepotong roti. Saat hendak masuk ke restoran, ia berpapasan dengan seorang pelayan restoran yang sedang menjinjing sesuatu yang tampak berat dalam sebuah karung.

“Apa itu?” tanyanya kepada pelayan itu.

“Apel-apel busuk yang hendak saya buang ke kandang, buat pakan ternak saya,” jawab pelayan.

“Oh sungguh sayang apel sebanyak itu dibuang begitu saja untuk pakan ternak. Isteriku pasti akan sangat senang memiliki sekarung apel itu,” kata petani mengomentari apel yang hendak dibuang itu.

“Apakah Anda mau membeli apel busuk ini?” tanya pelayan restoran sambil terus berjalan menjinjing sekarung apel tersebut, karena dia pikir hanya orang bodoh yang mau membeli apel busuk itu.

“Hei, aku mau menukar apel itu dengan ayam ku ini!” teriak petani.


Walaupun keheranan, pelayan restoran itu pun dengan senang hati menerima ayam petani dan ditukar dengan sekarung apel busuknya.

“Isteriku akan sangat senang menerima ini semua,” kata petani kepada pelayan restoran sesaat setalah ia masuk ke restoran dan memesan bir dan roti. Ia duduk tidak jauh dengan tungku api, dan menaruh karung apel menempel dengan tungku perapian.

Tidak lama kemudian terdengar suara aneh dari dekat tungku, yang menandakan beberapa apel yang menempel tungku mulai hangus terbakar. Suara apel yang terbakar itu menarik beberapa orang pengunjung restoran. Di antaranya dua orang saudagar kaya yang juga sedang minum tidak jauh dari meja si petani.

“Apa itu yang terbakar dekat tungku itu?” tanya saudagar kaya.

“oh itu apel-apel yang akan aku persembahkan untuk isteri tercintaku,” jawab petani sambil menjauhkan sekarung apel busuknya dari perapian.

Petani itu kemudian terlibat pembicaraan yang cukup hangat dengan dua orang saudagar kaya tersebut. Dengan bangga pula dia ceritakan pertukaran-pertukaran yang telah dia lakukan selama dalam perjalanan ke kota tadi, mulai dari kuda dia tukar dengan sapi, sapi dengan domba hingga akhirnya dia mendapatkan sekarung apel busuk. Petani itu sangat yakin denga ceritanya, bahwa apa yang dia lakukan pasti akan sangat menyenangkan isterinya di rumah.

Demi mendengar cerita petani tersebut, dua saudagar itu tertawa terpingkal-pingkal. Bagi mereka, baru kali ini ada orang yang begitu bangga dengan keputusan-keputusan bodoh yang telah dia ambil. Dan setelah berhenti tertawa, saudagar tersebut berkata,” aku berani bertaruh, kamu akan dimarahi habis-habisan oleh isterimu karena telah melakukan serangkaian keputusan paling konyol. Dia pasti akan sangat menyesal mempunyai suami seperti Anda...”

“ Isteriku wanita yang sangat baik dan selalu percaya apa yang saya lakukan adalah hal yang tepat. Dia akan menciumku mesra, dan menghidangkan makanan lezat sebagai hadiahnya,” jawab petani yakin.

“ Maukah kita bertaruh untuk hal itu?” tanya saudagar tersebut. “ aku sediakan satu karung uang emas jika aku salah, dan apa yang kau katakan itu benar.”

“ Saya punya satu kantong kecil, jika mau boleh saja kita bertaruh,” kata petani.

Dua saudagar itu setuju. Bukan karena mereka ingin mendapatkan uangnya sehingga menerima pertaruhan yang tidak seimbang itu, tetapi lebih karena mereka ingin tahu kebenaran kata-kata si petani.

Dengan kereta kuda dua saudagar kaya dan petani itu pergi ke desa. Tak lupa pula sekarung apel busuk milik petani ikut dibawa dalam kereta itu.

Singkat cerita, sampailah mereka di halaman rumah petani. Ketiga orang itu turun dari kereta dan memasuki rumah petani. Dengan tergopoh-gopoh isteri petani menyambut kedatangan suaminya. Dengan hangat dia cium mesra suaminya tanpa menghiraukan kehadiran dua saudagar kaya di belakang petani.

“Selamat malam sayangku!” sapa petani dengan riang.

“Terima kasih ayah. Ayah telah kembali dan pasti telah membawa hal terbaik untuk ku.”
Kemudian mulailah dia menceritakan perjalanannya ke kota siang tadi kepada isterinya.

“Aku telah menukar kuda kita dengan seekor sapi betina!”

“Oh suamiku, itu ide yang sangat cemerlang. Dengan sapi betina itu kita akan mendapatkan susu, keju dan mentega. Suatu saat kulitnya juga akan sangat berharga. Pertukaran yang luar biasa sayangku!”

“Kemudian sapi itu aku tukar dengan seekor domba yang sangat montok.”

“Oh, itu lebih bagus lagi!” pekik isteri petani. “ Kau sungguh memikirnkan yang terbaik. Domba kita bisa kita taruh di padang rumput kita, dan dia akan menghasilkan susu, keju dan wol yang bisa kita buat pakaian yang hangat!”

“Domba itu kemudian aku tukar dengan seekor angsa yang lucu.”

“Wow... kita bisa memanggang angsa untuk hidangan Natal nanti. Kau tahu, aku sangat suka daging angsa sayangku. Sebelum Natal tiba, kita bisa biarkan angsa itu berkeliaran di kolam kita, sungguh pemandangan yang indah. Kau sungguh mengerti apa yang aku mau ayah!”

“Tetapi angsa itu telah aku tukar dengan seekor ayam betina.”

“Pertukaran yang sangat pantas suamiku,” jawab isterinya dengan girang. “ Ayam betina bisa mencari makan sendiri dan tidak merepotkan kita. Dia juga akan bertelur dan memiliki banyak anak ayam di kemudian hari. Itu hal yang sangat aku inginkan!”

“Ayam betina itu kemudian aku tukar dengan sekarung apel busuk di restoran.”

“Oh, Tuhan memberkatimu ayah. Aku sungguh beruntung mempunyai suami seperti kamu!” teriak isteri petani sambil sekali lagi mencium mesra suaminya.



“Terima kasih sayangku. Akan kuceritakan sesuatu kepadamu. Segera setelah kau pergi pagi taid, aku ingin membuat makanan yang lezat untukmu, yaitu telur dadar dengan bawang prei. Aku mempunyai cukup banyak telor, tetapi tidak ada bawang prei. Kemudian aku pergi ke rumah kepala sekolah. Aku tahu mereka mempunyai banyak bawang prei, tetapi isterinya sangat pelit. Aku ingin bertukar bawang prei dengan telor, tetapi jawaban mereka sangat kasar. Aku tidak bisa mendapatkan bawang prei itu. Tetapi sekarang aku mendapatkan sekarung apel, dan kita bisa membuat berbagai makanan yang enak dengan apel itu. Sekarung apel itu telah menghilangkan kesedihanku sepanjang hari tadi karena tidak bisa membuatkan makanan lezat untukmu, dan kau telah membuatku senang sayangku.”

Sekali lagi petani mendapat hadiah ciuman mesra dari isterinya.

Kedua saudagar kaya yang dari tadi diam menyaksikan kejadian itu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Tetapi kemudian mereka memberikan tepuk tangan sambil berkata,” aku sangat senang melihatnya! Alur cerita dari awalnya berjalan dengan sangat menyedihkan jika kita ikuti, tetapi ternyata berakhir dengan bahagia! Dengan senang hati saya bayar uang taruhan saya untuk kalian!”

Kemudian mereka membayar petani itu dengan sebongkok uang emas karena isterinya benar-benar memberikan ciuman seperti yang telah dikatakan petani, dan bukan omelan.

******

Dalam hidup kita, kita akan selalu dihadapkan pada berbagai hal, dari yang sederhana sampai yang rumit. Dari setiap hal yang kita dapati itu, selalu ada sisi baik dan sisi buruknya. Kadang kala apa yang kita dapatkan adalah sesuatu yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkannya, dalam artian kita tidak punya kuasa untuk menentukan pilihan. Akan tetapi, dalam kondisi kita tidak mempunyai pilihan itu, kita selalu masih mempunyai pilihan dalam mensikapinya. Kita bisa memilih untuk bersikap dan berpikir positif atas apa yang terjadi dalam hidup kita, atau sebaliknya kita bersikap dan berpikir negatif terhadap segala sesuatunya. 


Sesungguhnya, jika kita mau bersikap dan memandang sesuatu secara positif, terhadap hal buruk apapun kita masih bisa mendapatkan nilai-nilai baik darinya. Sebaliknya, hal baik pun jika kita merespon dengan sikap dan pikiran negatif, tidak akan kita dapatkan nilai-nilai baik darinya. Bersyukur atas kebaikan yang masih kita miliki, walaupun sedikit, dan memandang  sesuatu dari sisi baiknya terhadap setiap hal yang kita hadapi, jauh akan memberi manfaat dalam hidup kita daripada memikirkan hal-hal negatif.

(Didaur ulang dari cerita berjudul Ayah Selalu Benar karya Hans Christian Anderson (1805-1875))
Alden Praptono

Tidak ada komentar:

Posting Komentar