Tampilkan postingan dengan label suami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suami. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Maret 2013

PETANI YANG LUGU DAN ISTERINYA

Di suatu pedesaan di wilayah Kerajaan Inggris, pada jaman dahulu, hiduplah seorang petani dan isterinya. Keluarga kecil ini mempunyai beberapa ladang yang tidak begitu luas, dan beberapa ekor kuda. Pada waktu itu bukanlah hal sulit untuk mendapatkan rumput-rumputan untuk pakan kuda-kuda mereka. Jadi walaupun mereka bukan keluarga kaya, kuda-kuda itu tumbuh sehat dan gemuk-gemuk. Pada saat pergi ke kota, biasanya petani ini menaiki salah satu kudanya. Sesekali beberapa tetangganya juga meminjam kuda-kuda itu.

Suatu ketika terbersit dalam pikiran petani tersebut untuk menjual salah satu kuda itu. Kemudian ia utarakan niatnya itu kepada isterinya.

“Apapun yang kau lakukan, kau selalu tahu yang terbaik ayah,” kata isterinya. “Ide ayah selalu bagus. Menjual salah satu kuda itu adalah cara yang tepat untuk mendapatkan uang. Dengan uang itu nanti kita bisa membeli berbagai macam kebutuhan, atau ditukar dengan barang lain yang berguna. Pergilah ke kota dan lakukan ide bagus ayah itu.”

Esok harinya, pagi-pagi sekali isteri petani sudah sibuk menyiapkan bekal suaminya untuk perjalanan ke kota. Jarak desa itu dengan kota memang cukup jauh sehingga keberangkatannya memerlukan bekal dan persiapan yang cukup. Tidak lupa pula dia siapkan pakaian yang bagus untuk dikenakan suaminya.

Dengan ciuman mesra sang isteri, petani itu menaiki kudanya dan berangkat dengan tanpa keraguan sedikitpun. Isteri petani  pun melepas suaminya dengan senyum dan keyakinan penuh pada suaminya, bahwa suaminya pasti akan melakukan hal terbaik.

Semakin siang jalanan yang dilalui petani dan kudanya semakin ramai oleh orang-orang yang juga ingin ke kota. Karena banyak yang mengendarai kuda, sapi atau gerobak, jalanan jadi berdebu.

Dalam perjalanan itu, petani tersebut bertemu dengan seseorang yang menuntun sapi yang cukup gemuk. Orang itu juga hendak pergi ke kota untuk menjual sapinya.

Melihat sapi betina yang gemuk itu, timbul pikiran dalam benak si petani untuk memilikinya,” Sapi itu bisa menghasilkan susu setiap hari sebelum akhirnya dijual suatu hari nanti. Isteriku pasti akan senang kalau kuda ini aku tukar dengan sapi itu.”

“Sobat, kau tahu harga kuda lebih mahal daripada sapi. Tetapi karena aku masih memiliki kuda yang lain, aku ingin mempunyai sapi betina. Maukah Anda bertukar sapi dengan kuda saya ini?” tanya petani itu kepada pemilik sapi.

Laki-laki pemilik sapi itu pun menyetujui ide si petani. Kemudian mereka pun bertukar dua binatang itu. Sekarang si petani membawa seekor sapi betina. Dia merasa sangat puas karena dia percaya keputusannya adalah pilihan yang sangat baik. Isterinya pasti akan sangat senang mendapatinya.

Karena hari belum terlalu siang, dan jalanan menuju ke kota cukup ramai, walaupun kudanya telah ditukar dengan sapi petani itu memutuskan untuk tetap pergi ke kota sekedar melihat-lihat kesibukan di kota.
Setelah berjalan lebih jauh lagi, bertemulah petani dengan seorang laki-laki yang hendak menjual dombanya. Domba itu begitu sehat dan bersih, dengan bulu yang sangat lebat dan lembut.

Melihat domba yang menggemaskan itu, si petani tergoda ingin memilikinya.

“Domba yang sangat lucu, bisa menjadi peliharaan yang tinggal di dalam rumah. Bulunya sangat lebat, bisa dibuat untuk baju hangat, dan kemudian tumbuh bulu-bulu yang baru lagi. Memelihara dan merawat seekor domba jauh lebih mudah daripada seekor sapi,” pikir petani itu.

Petani pun kemudian menukar sapinya dengan seekor domba montok itu. Dan dengan langkah mantap sambil menuntun seekor domba, sang petani melanjutkan perjalanannya ke kota.

Suatu saat, bertemulah ia dangan seorang pemuda yang membawa seekor angsa yang lucu. Bulu-bulu angsa berwarna putih dan sangat bersih. Pemuda itu hendak menjual angasnya ke kota juga.

“Tampaknya memiliki angsa akan sangat menyenangkan. Bulunya putih bersih, dan dia bisa berenang di kolam depan rumah kami. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Maukah kau jika angsa itu aku tukar dengan domba ini?” tanya petani kepada pemuda pemilik angsa.

Tentu saja sang pemuda dengan senang hati menerima tawaran menggiurkan tersebut. Maka terjadilah pertukaran untuk yang ke sekian kalinya. Petani pun sangat yakin bahwa keputusanya sangat tepat. Dengan wajah berbinar-binar dan langkah tegap dia melanjutkan perjalanan bersama-sama orang yang hendak ke kota juga.

Kota sudah di depan mata. Tinggal beberapa langkah lagi petani sampai ke kota. Keramaian orang semakin bertambah hiruk pikuk. Pada saat itu ia melihat seorang penduduk yang tinggal di batas kota sedang memberi makan ayamnya di depan rumah. Ayam itu tampak sangat terbiasa dengan keramaian sehingga sama sekali tidak takut dengan orang-orang yang hilir mudik di jalanan.

Sang petani sambil menenteng angsanya melihat ayam tersebut dan timbullah dalam benaknya keinginan untuk memilikinya,” ayam betina yang sangat cantik dan jinak. Ayam itu bisa mencari pakan sendiri di sekitar kampung, dan akan menghasilkan banyak telur, mengeraminya dan mempunyai anak banyak.”

Dia pun mengutarakan keinginannya untuk bertukar ayam dengan angsanya kepada pemilik ayam. Pemilik ayam tidak keberatan. Dan sesaat kemudian petani tersebut telah memasuki kota yang semakin ramai dengan menenteng seekor ayam betina.

Karena terasa haus dan lapar, ia kemudian memutuskan untuk mempir ke sebuah restoran. Ia ingin minum segelas bir dan sepotong roti. Saat hendak masuk ke restoran, ia berpapasan dengan seorang pelayan restoran yang sedang menjinjing sesuatu yang tampak berat dalam sebuah karung.

“Apa itu?” tanyanya kepada pelayan itu.

“Apel-apel busuk yang hendak saya buang ke kandang, buat pakan ternak saya,” jawab pelayan.

“Oh sungguh sayang apel sebanyak itu dibuang begitu saja untuk pakan ternak. Isteriku pasti akan sangat senang memiliki sekarung apel itu,” kata petani mengomentari apel yang hendak dibuang itu.

“Apakah Anda mau membeli apel busuk ini?” tanya pelayan restoran sambil terus berjalan menjinjing sekarung apel tersebut, karena dia pikir hanya orang bodoh yang mau membeli apel busuk itu.

“Hei, aku mau menukar apel itu dengan ayam ku ini!” teriak petani.


Walaupun keheranan, pelayan restoran itu pun dengan senang hati menerima ayam petani dan ditukar dengan sekarung apel busuknya.

“Isteriku akan sangat senang menerima ini semua,” kata petani kepada pelayan restoran sesaat setalah ia masuk ke restoran dan memesan bir dan roti. Ia duduk tidak jauh dengan tungku api, dan menaruh karung apel menempel dengan tungku perapian.

Tidak lama kemudian terdengar suara aneh dari dekat tungku, yang menandakan beberapa apel yang menempel tungku mulai hangus terbakar. Suara apel yang terbakar itu menarik beberapa orang pengunjung restoran. Di antaranya dua orang saudagar kaya yang juga sedang minum tidak jauh dari meja si petani.

“Apa itu yang terbakar dekat tungku itu?” tanya saudagar kaya.

“oh itu apel-apel yang akan aku persembahkan untuk isteri tercintaku,” jawab petani sambil menjauhkan sekarung apel busuknya dari perapian.

Petani itu kemudian terlibat pembicaraan yang cukup hangat dengan dua orang saudagar kaya tersebut. Dengan bangga pula dia ceritakan pertukaran-pertukaran yang telah dia lakukan selama dalam perjalanan ke kota tadi, mulai dari kuda dia tukar dengan sapi, sapi dengan domba hingga akhirnya dia mendapatkan sekarung apel busuk. Petani itu sangat yakin denga ceritanya, bahwa apa yang dia lakukan pasti akan sangat menyenangkan isterinya di rumah.

Demi mendengar cerita petani tersebut, dua saudagar itu tertawa terpingkal-pingkal. Bagi mereka, baru kali ini ada orang yang begitu bangga dengan keputusan-keputusan bodoh yang telah dia ambil. Dan setelah berhenti tertawa, saudagar tersebut berkata,” aku berani bertaruh, kamu akan dimarahi habis-habisan oleh isterimu karena telah melakukan serangkaian keputusan paling konyol. Dia pasti akan sangat menyesal mempunyai suami seperti Anda...”

“ Isteriku wanita yang sangat baik dan selalu percaya apa yang saya lakukan adalah hal yang tepat. Dia akan menciumku mesra, dan menghidangkan makanan lezat sebagai hadiahnya,” jawab petani yakin.

“ Maukah kita bertaruh untuk hal itu?” tanya saudagar tersebut. “ aku sediakan satu karung uang emas jika aku salah, dan apa yang kau katakan itu benar.”

“ Saya punya satu kantong kecil, jika mau boleh saja kita bertaruh,” kata petani.

Dua saudagar itu setuju. Bukan karena mereka ingin mendapatkan uangnya sehingga menerima pertaruhan yang tidak seimbang itu, tetapi lebih karena mereka ingin tahu kebenaran kata-kata si petani.

Dengan kereta kuda dua saudagar kaya dan petani itu pergi ke desa. Tak lupa pula sekarung apel busuk milik petani ikut dibawa dalam kereta itu.

Singkat cerita, sampailah mereka di halaman rumah petani. Ketiga orang itu turun dari kereta dan memasuki rumah petani. Dengan tergopoh-gopoh isteri petani menyambut kedatangan suaminya. Dengan hangat dia cium mesra suaminya tanpa menghiraukan kehadiran dua saudagar kaya di belakang petani.

“Selamat malam sayangku!” sapa petani dengan riang.

“Terima kasih ayah. Ayah telah kembali dan pasti telah membawa hal terbaik untuk ku.”
Kemudian mulailah dia menceritakan perjalanannya ke kota siang tadi kepada isterinya.

“Aku telah menukar kuda kita dengan seekor sapi betina!”

“Oh suamiku, itu ide yang sangat cemerlang. Dengan sapi betina itu kita akan mendapatkan susu, keju dan mentega. Suatu saat kulitnya juga akan sangat berharga. Pertukaran yang luar biasa sayangku!”

“Kemudian sapi itu aku tukar dengan seekor domba yang sangat montok.”

“Oh, itu lebih bagus lagi!” pekik isteri petani. “ Kau sungguh memikirnkan yang terbaik. Domba kita bisa kita taruh di padang rumput kita, dan dia akan menghasilkan susu, keju dan wol yang bisa kita buat pakaian yang hangat!”

“Domba itu kemudian aku tukar dengan seekor angsa yang lucu.”

“Wow... kita bisa memanggang angsa untuk hidangan Natal nanti. Kau tahu, aku sangat suka daging angsa sayangku. Sebelum Natal tiba, kita bisa biarkan angsa itu berkeliaran di kolam kita, sungguh pemandangan yang indah. Kau sungguh mengerti apa yang aku mau ayah!”

“Tetapi angsa itu telah aku tukar dengan seekor ayam betina.”

“Pertukaran yang sangat pantas suamiku,” jawab isterinya dengan girang. “ Ayam betina bisa mencari makan sendiri dan tidak merepotkan kita. Dia juga akan bertelur dan memiliki banyak anak ayam di kemudian hari. Itu hal yang sangat aku inginkan!”

“Ayam betina itu kemudian aku tukar dengan sekarung apel busuk di restoran.”

“Oh, Tuhan memberkatimu ayah. Aku sungguh beruntung mempunyai suami seperti kamu!” teriak isteri petani sambil sekali lagi mencium mesra suaminya.



“Terima kasih sayangku. Akan kuceritakan sesuatu kepadamu. Segera setelah kau pergi pagi taid, aku ingin membuat makanan yang lezat untukmu, yaitu telur dadar dengan bawang prei. Aku mempunyai cukup banyak telor, tetapi tidak ada bawang prei. Kemudian aku pergi ke rumah kepala sekolah. Aku tahu mereka mempunyai banyak bawang prei, tetapi isterinya sangat pelit. Aku ingin bertukar bawang prei dengan telor, tetapi jawaban mereka sangat kasar. Aku tidak bisa mendapatkan bawang prei itu. Tetapi sekarang aku mendapatkan sekarung apel, dan kita bisa membuat berbagai makanan yang enak dengan apel itu. Sekarung apel itu telah menghilangkan kesedihanku sepanjang hari tadi karena tidak bisa membuatkan makanan lezat untukmu, dan kau telah membuatku senang sayangku.”

Sekali lagi petani mendapat hadiah ciuman mesra dari isterinya.

Kedua saudagar kaya yang dari tadi diam menyaksikan kejadian itu, hanya bisa geleng-geleng kepala. Tetapi kemudian mereka memberikan tepuk tangan sambil berkata,” aku sangat senang melihatnya! Alur cerita dari awalnya berjalan dengan sangat menyedihkan jika kita ikuti, tetapi ternyata berakhir dengan bahagia! Dengan senang hati saya bayar uang taruhan saya untuk kalian!”

Kemudian mereka membayar petani itu dengan sebongkok uang emas karena isterinya benar-benar memberikan ciuman seperti yang telah dikatakan petani, dan bukan omelan.

******

Dalam hidup kita, kita akan selalu dihadapkan pada berbagai hal, dari yang sederhana sampai yang rumit. Dari setiap hal yang kita dapati itu, selalu ada sisi baik dan sisi buruknya. Kadang kala apa yang kita dapatkan adalah sesuatu yang sebenarnya kita sendiri tidak menginginkannya, dalam artian kita tidak punya kuasa untuk menentukan pilihan. Akan tetapi, dalam kondisi kita tidak mempunyai pilihan itu, kita selalu masih mempunyai pilihan dalam mensikapinya. Kita bisa memilih untuk bersikap dan berpikir positif atas apa yang terjadi dalam hidup kita, atau sebaliknya kita bersikap dan berpikir negatif terhadap segala sesuatunya. 


Sesungguhnya, jika kita mau bersikap dan memandang sesuatu secara positif, terhadap hal buruk apapun kita masih bisa mendapatkan nilai-nilai baik darinya. Sebaliknya, hal baik pun jika kita merespon dengan sikap dan pikiran negatif, tidak akan kita dapatkan nilai-nilai baik darinya. Bersyukur atas kebaikan yang masih kita miliki, walaupun sedikit, dan memandang  sesuatu dari sisi baiknya terhadap setiap hal yang kita hadapi, jauh akan memberi manfaat dalam hidup kita daripada memikirkan hal-hal negatif.

(Didaur ulang dari cerita berjudul Ayah Selalu Benar karya Hans Christian Anderson (1805-1875))
Alden Praptono

Senin, 18 Februari 2013

SUAMIKU MALAIKATKU; KISAH KESETIAAN SEORANG SUAMI KEPADA ISTERINYA



Lelaki yang sudah tidak muda lagi ini namanya cukup sering menghiasi berbagai media masa di Indonesia, baik media konvensional maupun online. Jika dulu dia lebih dikenal sebagai pengusaha di bidang index saham dan investasi, dan mempunyai andil yang tidak kecil pada perkembangan pasar modal di negeri ini, maka dalam beberapa tahun belakangan ini dia lebih banyak dikenal lagi karena dibalik kesuksesan bisnisnya, dia mempunyai kisah hidup pribadi yang mengharukan dan patut menjadi inspirasi bagi semua suami di dunia ini.

Nama lengkapnya Eko Pratomo Suyatno, tapi lebih sering disebut Suyatno saja.Usianya mungkin sudah menginjak 60 tahun.Dia merupakan pemilik sebuah perusahaan besar di bidang investasi reksadana yang cukup bagus reputasinya di negeri ini.Sebagai seorang pengusaha sukses, dia dan keluarganya mempunyai kehidupan yang cukup baik. Perkawinannya dengan isteri tercinta lebih dari 30 tahun yang lalu juga sangat bahagia, dan telah mendapatkan 4 orang anak yang kini telah tumbuh dewasa semua.

Kehidupan rumah tangganya yang bahagia itu mendapatkan cobaan berat sesaat setelah isterinya melahirkan anak ke empatnya. Setelah melahirkan, tiba-tiba ke dua kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan. Kondisi itu berlangsung hingga 2 tahun. Kondisinya kemudian bukannya membaik, pada tahun berikutnya  justeru kelumpuhan itu terjadi pada seluruh tubuhnya. Lidahnya tidak bisa digerakkan, otomatis juga tidak bisa berbicara. Satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan menggunakan bahasa isyarat mata.

Menghadapi kondisi isterinya yang seperti itu, Pak Suyatno tetap tabah dan dengan sabar merawat dan mengurusi segala keperluan isterinya. Dia ingin menunjukkan cinta yang sesungguhnya kepada isterinya yang sekarang lumpuh itu dengan cara mengurus langsung semua kebutuhan isterinya, walaupun sebenarnya dia bisa membayar seseorang untuk melakukan semua itu. Namun kebesaran cinta pada isterinya membuat dia tetap kuat dan setia melayani isterinya.Sedangkan pembantu-pembantu yang ada ditugaskan untuk mengurus kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan rumah tangga. Sedangkan mengurusi isteri dan keempat anaknya dia lakukan sendiri, karena memang secara otomatis dia juga berperan sebagai ibu bagi ke empat anaknya.Pak Suyatno merawat anak-anaknya seperti halnya yang dilakukan istrinya di kala sehat, antara lain menyiapkan sarapan dan baju seragamnya, juga menemani mereka bermain dekat dengan ibunya.

Sebelum berangkat ke tempat usahanya setiap hari, Pak Suyatno selalu menyempatkan diri memandikan, membersihkan kotoran, menggantikan pakaian dan menyuapi isteri tercintanya. Agar sang isteri tidak kesepian saat ditinggal, dia dekatkan sang isteri pada sebuah televise di ruangannya.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Meski istrinya hanya bisa memandang tanpa bisa menanggapi, Pak Suyatno dengan setia mengajak istrinya duduk di belakang dia saat Pak Suyatno shalat, seperti sedang berjamaah. Ia-pun sering mengajak istrinya mengaji atau mendengarkan Pak Suyatno mengaji dan juga mengajak sang istri berzikir, meski hanya dalam hati. Semuanya itu dijalani Pak Suyatno dengan ikhlas dan ia sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hari, agar istrinya tersenyum.

Rutinitas ini sudah dilakukan pak Suyatno selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah menjadi Sarjana, tinggal si bungsu yang masih duduk di bangku kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan untuk merawat sendiri ibu mereka. Yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya.Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini? Terus terangi kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian kalau bapak menikah lagi”.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anak mereka, “Anak-anakku ………, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu birahi mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu……Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disamping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.. “ Sejenak kerongkongannya tersekat,” Anakku, kalian yang selalu bapak dan ibu rindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menggantinyai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah swt kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit? Jujur saja nak, bapak tidak sampai hati, meninggalkan ibumu” kali ini ada tetesan air mata di sudut mata Pak Suyatno. Seketika meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, kemudian merekapun melihat juga butiran-butiran bening jatuh dipelupuk mata ibunya, yang dengan pilu ditatapnya mata sang suami yang sangat setia dan sangat dicintainya itu..

Akibat kesetiannya selama puluhan tahun tersebut, sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh Metro TV untuk menjadi nara sumber pada acara Kick Andy. Di acara itu mereka mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, bagaimana beliau mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa itu? Mengingat waktu tersebut bukan waktu yang pendek untuk menguji batas kesabaran dan ketabahan manusia biasa.

Pada saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio. Kalau boleh menebak, tangis Pak Suyatno bukanlah karena beban dia yang berat selama bertahun-tahun itu, melainkan karena membayangkan penderitaan isteri tercintanya yang tak kunjung berakhir setelah lebih dari seperempat abad berlalu. Kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru, lalu disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Bagi saya, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau berkorban dengan memberi ( memberi waktu, memberi tenaga, pikiran dan perhatian ) adalah hanya kesia-siaan belaka. Sejak dulu saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dengan tekad kita akan bersama dalam suka maupun duka, hingga Allah swt memanggil kita. Saya tidak akan dapat melupakan jasa-jasa besar istri saya sewaktu dia sehat, diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Ia juga telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu, saleh dan pinter. Di mata saya, ia sehat dan masih cantik seperti 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menganggapnya lumpuh. Saat saya menyuapinya, saya rasakan sama seperti saat saya menyuapinya kala kita berbulan madu. Saat saya menggendongnya untuk naik dan turun dari tempat tidur, saya merasakan seperti saat kita masih berbulan madu. Setiap kali saya melihat wajahnya, sama seperti kala saya melihatnya di kala kami pacaran atau seperti saat saya memandangnya waktu kami berbulan madu"

Pak Suyatno kemudian melanjutkan,"Sekarang dia dalam kondisi sakit setelah melahirkan anak kami. Ia telah berkorban untuk cinta kami bersama. Bagi saya kondisi itu merupakan ujiandari Allah bagi saya atas cinta kami berdua. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Dalam kondisi ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang dalam keadaan sakit. Tidak, tidak, bahkan berpikir untuk itupun saya tidak mau. Biarlah saya ikhlas menjalani takdir Allah ini, saya yakin "Gusti Allah ora sare", Tuhan tidak pernah tidur. Sekecil apapun yang saya berikan kepada istri saya dan anak-anak, saya niatkan hanya untuk ibadah saya kepada Allah swt. Dan saya yakin Allah pasti akan memperhitungkan apapun yang kita perbuat, sekecil apapun. Saya berusaha mengikuti Rasulullah, tauladan saya yang mencintai dan melayani istrinya, bukan hanya dilayani. Sekarang ini harapan saya hanya satu, ijinkan saya merawat istri saya yang sangat saya cintai hingga Allah memanggil salah satu diantara kita. Kalapun ia dipanggil lebih dulu, saya bertekad untuk tetap mencintainya dan tidak akan menikah lagi. Istri saya adalah cinta dunia dan akhirat saya. Kalau Allah mengizinkan kami masuk surga, Insya Allah, saya menginginkan ia jadi Bidadari saya di Surga”

Kali ini Pak Suyatno sama sekali tidak menangis, justru penontonlah yang menangis.

Rasa cinta yang dalam kepada isterinya, membuat Pak Suyatno tetap kuat merawat dan mendampingi isterinya yang lumpuh hingga 25 tahun berlalu. Dalam waktu yang lama itu, tak sekalipun terbersit untuk meninggalkannya, apalagi mencari isteri lagi. Sungguh sangat sulit menemukan sosok yang seperti Pak Suyatno, yang betul-betul bagai malaikat bagi isterinya yang dalam penderitaan panjang. Teladan yang sangat baik bagi semua lelaki di manapun berada. Semoga Allah Swt. selalu melimpahkan rahmatNya kepada Pak Suyatno dan keluarganya. Amiin.