Tampilkan postingan dengan label kesetiaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesetiaan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Februari 2013

Kisah tentang kesetiaan (2) HACHIKO, KESETIAAN SEEKOR ANJING


(Catatan: Tulisan ini saya buat sekitar tahun 2008, sebelum Film Hachiko yang dibintangi Horison Ford dirilis. Tulisan ini juga pernah saya posting di beberapa forum dan milist, dan kemudian sempat menyebar di beberapa blog lain. Waktu itu saya belum membuat blog sendiri. Sekarang di blog saya ini saya posting kembali. Jadi jika sebagian Anda sudah ada yang pernah membaca persis dengan tulisan ini, mungkin itu copy dari postingan lama saya.)

Di Kota Shibuya, Jepang, tepatnya di alun-alun sebelah timur Stasiun Kereta Api Shibuya, terdapat patung yang sangat termasyur. Bukan patung pahlawan ataupun patung selamat datang, melainkan patung seekor anjing. Dibuat oleh Ando Takeshi pada tahun 1935 untuk mengenang kesetiaan seekor anjing kepada tuannya.


Seorang Profesor setengah tua tinggal sendirian di Kota Shibuya. Namanya Profesor Hidesamuro Ueno. Dia hanya ditemani seekor anjing kesayangannya, Hachiko. Begitu akrab hubungan anjing dan tuannya itu sehingga kemanapun pergi Hachiko selalu mengantar. Profesor itu setiap hari berangkat mengajar di universitas selalu menggunakan kereta api. Hachiko pun setiap hari setia menemani Profesor sampai stasiun. Di setasiun Shibuya ini Hachiko dengan setia menunggui tuannya pulang tanpa beranjak pergi sebelum sang profesor kembali. Dan ketika Profesor Ueno kembali dari mengajar dengan kereta api, dia selalu mendapati Hachiko sudah menunggu dengan setia di stasiun. Begitu setiap hari yang dilakukan Hachiko tanpa pernah bosan.


Musim dingin di Jepang tahun ini begitu parah. Semua tertutup salju. Udara yang dingin menusuk sampai ke tulang sumsum membuat warga kebanyakan enggan ke luar rumah dan lebih memilih tinggal dekat perapian yang hangat.


Pagi itu, seperti biasa sang Profesor berangkat mengajar ke kampus. Dia seorang profesor yang sangat setia pada profesinya. Udara yang sangat dingin tidak membuatnya malas untuk menempuh jarak yang jauh menuju kampus tempat ia mengajar. Usia yang semakin senja dan tubuh yang semakin rapuh juga tidak membuat dia beralasan untuk tetap tinggal di rumah. Begitu juga Hachiko, tumpukan salju yang tebal dimana-mana tidak menyurutkan kesetiaan menemani tuannya berangkat kerja. Dengan jaket tebal dan payung yang terbuka, Profesor Ueno berangkat ke stasun Shibuya bersama Hachiko.

Tempat mengajar Profesor Ueno sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya. Tapi memang sudah menjadi kesukaan dan kebiasaan Profesor untuk naik kereta setiap berangkat maupun pulang dari universitas.


Kereta api datang tepat waktu. Bunyi gemuruh disertai terompet panjang seakan sedikit menghangatkan stasiun yang penuh dengan orang-orang yang sudah menunggu itu. Seorang awak kereta yang sudah hafal dengan Profesor Ueno segera berteriak akrab ketika kereta berhenti. Ya, hampir semua pegawai stasiun maupun pegawai kereta kenal dengan Profesor Ueno dan anjingnya yang setia itu, Hachiko. Karena memang sudah bertahun-tahun dia menjadi pelanggan setia kendaraan berbahan bakar batu bara itu.


Setelah mengelus dengan kasih sayang kepada anjingnya layaknya dua orang sahabat karib, Profesor naik ke gerbong yang biasa ia tumpangi. Hachiko memandangi dari tepian balkon ke arah menghilangnya profesor dalam kereta, seakan dia ingin mengucapkan,” saya akan menunggu tuan kembali.”




“ Anjing manis, jangan pergi ke mana-mana ya, jangan pernah pergi sebelum tuan kamu ini pulang!” teriak pegawai kereta setengah berkelakar.


Seakan mengerti ucapan itu, Hachiko menyambut dengan suara agak keras,”guukh!”

Tidak berapa lama petugas balkon meniup peluit panjang, pertanda kereta segera berangkat. Hachiko pun tahu arti tiupan peluit panjang itu. Makanya dia seakan-akan bersiap melepas kepergian profesor tuannya dengan gonggongan ringan. Dan didahului semburan asap yang tebal, kereta pun berangkat. Getaran yang agak keras membuat salju-salju yang menempel di dedaunan sekitar stasiun sedikit berjatuhan.

Di kampus, Profesor Ueno selain jadwal mengajar, dia juga ada tugas menyelesaikan penelitian di laboratorium. Karena itu begitu selesai mengajar di kelas, dia segera siap-siap memasuki lab untuk penelitianya. Udara yang sangat dingin di luar menerpa Profesor yang kebetulah lewat koridor kampus.


Tiba-tiba ia merasakan sesak sekali di dadanya. Seorang staf pengajar yang lain yang melihat Profesor Ueno limbung segera memapahnya ke klinik kampus. Berawal dari hal yang sederhana itu, tiba-tiba kampus jadi heboh karena Profesor Ueno pingsan. Dokter yang memeriksanya menyatakan Profesor Ueno menderita penyakit jantung, dan siang itu kambuh. Mereka berusaha menolong dan menyadarkan kembali Profesor. Namun tampaknya usaha mereka sia-sia. Profesor Ueno meninggal dunia.

Segera kerabat Profesor dihubungi. Mereka datang ke kampus dan memutuskan membawa jenazah profesor ke kampung halaman mereka, bukan kembali ke rumah Profesor di Shibuya.

Menjelang malam udara semakin dingin di stasiun Shibuya. Tapi Hachiko tetap bergeming dengan menahan udara dingin dengan perasaan gelisah. Seharusnya Profesor Ueno sudah kembali, pikirnya. Sambil mondar-mandir di sekitar balkon Hachiko mencoba mengusir kegelisahannya. Beberapa orang yang ada di stasiun merasa iba dengan kesetiaan anjing itu. Ada yang mendekat dan mencoba menghiburnya, namun tetap saja tidak bisa menghilangkan kegelisahannya.


Malam pun datang. Stasiun semakin sepi. Hachiko masih menunggu di situ. Untuk menghangatkan badannya dia meringkuk di pojokan salah satu ruang tunggu. Sambil sesekali melompat menuju balkon setiap kali ada kereta datang. Mungkin ini Profesor Ueno datang, pikirnya. Tapi selalu saja ia harus kecewa, karena Profesor Ueno tidak pernah datang. Bahkan hingga esoknya, dua hari kemudian, dan berhari-hari berikutnya dia tidak pernah datang. Namun Hachiko tetap menunggu dan menunggu di stasiun itu. Tubuhnya pun mulai menjadi kurus.


Para pegawai stasiun yang kasihan melihat Hachiko dan penasaran kenapa Profesor Ueno tidak pernah kembali mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Akhirnya didapat kabar bahwa Profesor Ueno telah meninggal dunia, bahkan telah dimakamkan oleh kerabatnya.


Mereka pun berusaha memberi tahu Hachiko bahwa tuannya tak akan pernah kembali lagi dan membujuk agar dia tidak perlu menunggu terus. Tetapi anjing itu seakan tidak percaya, atau tidak peduli. Dia tetap menunggu dan menunggu tuannya di stasiun itu, seakan dia yakin bahwa tuannya pasti akan kembali. Semakin hari tubuhnya semakin kurus kering karena jarang makan.


Akhirnya tersebarlah berita tentang seekor anjing yang setia terus menunggu tuannya walaupun tuannya sudah meninggal. Warga pun banyak yang datang ingin melihatnya. Banyak yang terharu. Bahkan sebagian sempat menitikkan air matanya ketika melihat dengan mata kepala sendiri seekor anjing yang sedang meringkuk di dekat pintu masuk menunggu tuannya yang sebenarnya tidak pernah akan kembali. Mereka yang simpati itu ada yang memberi makanan, susu, bahkan selimut agar tidak kedinginan.


Suatu pagi di tahun 1935, seorang petugas kebersihan stasiun tergopoh-gopoh melapor kepada pegawai keamanan. Sejenak kemudian suasana menjadi ramai. Pegawai itu menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan ruang tunggu. Anjing itu sudah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada sang tuannya pun terbawa sampai mati setelah 10 tahun selalu menunggu dan menunggu setiap hari!


Warga yang mendengar kematian Hachiko segera berduyun-duyun ke stasiun Shibuya. Mereka umumnya sudah tahu cerita tentang kesetiaan anjing itu. Mereka ingin menghormati untuk yang terakhir kalinya. Menghormati symbol sebuah kesetiaan yang kadang justru langka terjadi pada manusia.

Mereka begitu terkesan dan terharu. Untuk mengenang  kesetiaan anjing itu mereka kemudian membuat sebuah patung perunggu di dekat stasiun Shibuya. Sampai sekarang taman di sekitar patung itu sering dijadikan tempat untuk membuat janji bertemu. Karena masyarakat di sana berharap ada kesetiaan seperti yang sudah dicontohkan oleh Hachiku saat mereka harus menunggu maupun janji untuk datang. Akhirnya patung Hachiku pun dijadikan symbol kesetiaan. Kesetiaan yang tulus, yang terbawa sampai mati. 
(diolah dari berbagai sumber)

Jumat, 21 Oktober 2011

Kisah Tentang Kesetiaan (1) ; Kadal yang setia

Kisah tentang cinta, benci, kesetiaan, harapan, dan pengkianatan seakan tak pernah habis dan selalu menjadi bagian dari kisah-kisah dramatis panggung kehidupan manusia. Ada sebagian orang yang sangat menjunjung tinggi makna cinta dan kesetiaan pada pasangan, tetapi ada sebagian lain yang tidak percaya apa itu cinta dan perlunya kesetiaan. Bagi sebagian kita, hal-hal dramatis seperti itu hanya bisa kita lihat di cerita-cerita film atau sinetron televisi, yang mana semua itu hanyalah rekayasa alias karangan semata, dan bukan kisah nyata.

Sementara itu, pada acara-acara infotainment justru banyak menayangkan kisah ketidaksetiaan berbagai pasangan selebritis, baik yang berupa cerai setelah beberapa tahun menikah, ataupun putusnya status pacaran mereka yang masih menjalani hidup bersama secara tidak resmi. Dan alasan yang biasa mengemuka hanyalah soal ketidakcocokan lagi di antara mereka. Begitu tipisnya nilai-nilai kesetiaan itu mereka hargai.

Kita bisa belajar tentang nilai sebuah kesetiaan dari kisah nyata tentang sepasang kadal. Cerita ini sudah banyak diceritakan diberbagai media online, namun tidak ada salahnya sekali lagi kita ikuti, untuk kita ambil nilai yang terkandung di dalamnya, seberapa setia kah kita saat ini pada pasangan kita? Dan apakah kita termasuk orang-orang yang berani mempunyai harapan di tengah-tengah kesulitan yang menerpa?

Dikisahkan, di suatu tempat di Jepang tinggallah satu keluarga dengan rumah yang sudah tidak bagus lagi karena sudah cukup tua. Suatu ketika, pemilik rumah berniat membongkar rumahnya untuk kemudian membangun kembali dengan yang lebih bagus lagi.

Mulailah sang bapak membongkar bagian demi bagian rumah tuanya. Pada salah satu sudut bangunan yang mulai terbongkar, laki-laki itu melihat ada seekor kadal yang sebagian tubuhnya terjepit kayu dan terpaku sehingga tidak bisa pergi ketika ia mendekatinya. Dia mencoba mengamati lebih dekat lagi untuk melihat apa yang terjadi pada kadal itu. Kadal itu cukup sehat, hanya sebagian tubuhnya terjepit dan terpaku sehingga tidak bisa kemana-mana. Kemudian memeriksa kayu dan paku yang menjepit tubuh kadal itu. Sejenak dia mengernyitkan dahinya, sulit percaya dengan temuannya. Ternyata kayu yang menjepit kadal itu, dan paku yang menancap pada kayu itu adalah asli kayu dan paku yang dipasang bersamaan dengan pembangunan awal rumah itu. Berarti jika seumuran rumah itu, sudah 10 tahun lebih kadal itu terjepit disana!

Sejenak kemudian lelaki itu terduduk tidak jauh dari kadal itu terjepit. Dia masih tidak habis pikir, bagaimana kadal yang terjepit dan tidak bisa kemana-mana selama lebih dari 10 tahun bisa tetap hidup? Dia mencoba menganalisa sendiri, menerka-nerka apa yang terjadi. Belum sempat menemukan jawabannya,  tiba-tiba dari arah yang tidak dia ketahui, muncullah seekor kadal yang lain mendekati kadal yang terjepit itu. Kadal yang baru datang itu rupanya membawa makanan yang kemudian dia suapkan ke mulut kadal yang terjepit! Lelaki itu terkesiap melihat pemandangan di depannya. Jadi selama 10 tahun ini kadal itu dengan setia mengantarkan makanan untuk kadal yang terjepit tersebut? Rupanya itulah jawaban, kenapa kadal yang tidak bisa kemana-mana itu bisa tetap hidup hingga hari ini.

Hari itu, lelaki pemilik rumah tersebut merasa beruntung mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat bernilai tentang arti kesetiaan yang ditunjukkan oleh seekor kadal kepada pasangannya. Jika saja kadal itu berpikiran logis seperti manusia, pastilah dia akan meninggalkan pasangannya yang malang yang sudah tidak mempunyai harapan tersebut. Namun ternyata sebuah kesetiaan membuat harapan tetap hidup, dan itulah yang membuat sang kadal terjepit tetap hidup walaupun selama 10 tahun tidak bisa bergerak kemana-mana. Dan harapan terbesar sepasang kadal itu, hari itu Tuhan mengabulkannya. Dengan hati-hati lelaki itu membuka kayu yang terpaku menjepit kadal itu. Sejenak kemudian kadal itu pun terbebas dari jepitan, dan dengan terseok-seok dia mencoba berjalan menuju sebuah liang dimana malaikat penolongnya yang telah setia selama ini sudah menunggu.

Lelaki itu merasa lega. Dia memutuskan untuk berhenti barang sehari dalam membongkar rumahnya. Dia ingin segera menceritakan kisah hebat itu kepada keluarganya. Ternyata, kekuatan harapan bisa menguatkan dan membuat orang untuk hidup lebih lama walaupun dalam kesulitan yang nyaris tak terbayangkan bagaimana jalan keluarnya. Tuhan selalu mempunyai cara mewujudkan harapan-harapan bagi siapa saja yang meyakininya.

(Note: jika hidup dalam habitat yang tepat, jenis kadal tertentu bisa bertahan hidup 20-30 tahun)