Yuk berbagi cerita, tulisan, puisi, catatan, foto dll...yang ispiratif. Bisa jadi karena tulisan Anda, ada seseorang yang berubah hidupnya menjadi lebih baik lagi... who knows? At least, bisa membawa perubahan untuk diri sendiri. This blog is dedicated to everyone who wants to be more vivid in life.
Selasa, 14 Mei 2013
Just Share - SERI MENGAPA ILMU PENTING (1)
PELAJARAN DARI SEKANTUNG TEH CELUP
Belasan tahun yang lalu pada saat teh celup baru muncul untuk pertama kalinya ada seorang teman yang datang kepada saya. Teman saya itu membawa satu kantong kecil terbuat dari kertas tipis mirip kain halus berisi teh halus, dan ada benang yang salah satu ujungnya melekat pada kantong tersebut.
" Nih buat kamu, kalau mau nge-teh," kata teman saya itu sambil memberikan kantong kecil tadi, yang rupanya berisi teh halus.
Itu adalah pertama kalinya saya melihat teh kemasan seperti itu. Sebenarnya di televisi sudah mulai ada iklan teh semacam itu, namun saya kurang memperhatikannya.
Agak heran saya melihat penampilan teh yang tidak lazim itu. Tetapi kemudian saya ingat ketika saya pergi ke daerah Kerawang, di Pasar Rengasdengklok kebanyakan warung menjual minuman teh hangat dari teh dengan bungkusan kecil, yang kemudian dibuka dan ditaruh di satu gelas. Isinya juga teh halus. Jadi satu bungkus kecil teh memang untuk satu gelas teh.
Ingat kejadian itu, saya berkesimpulan mungkin ini teh yang hampir sama dengan yang di Kerawang itu. Segera saya ambil gunting dan saya potong kantong teh itu, saya taruh dalam gelas dan saya tuang air panas. Jadinya air dalam gelas itu hitam pekat mirip kopi, karena teh halus itu bercampur semua.
"Ah tidak praktis!" gumam saya ketika saya coba meminumnya harus sangat hati-hati agar teh-teh kecil itu tidak ikut tertelan.
Kemudian teman saya yang memberikan teh tadi datang. Dia heran melihat saya memegang segelas teh berwarna hitam pekat.
"Apaan itu?" tanyanya.
"Teh dari kamu tadi" jawab saya.
"Loh, emangnya kamu buka ya?" kembali ia bertanya.
"Iya, aku gunting," jawab saya lagi, mulai menyadari rupanya ada yang salah.
Seketika meledaklah tawa teman saya itu, diikuti beberapa teman lain yang melihat kejadian itu.
"Itu kan teh celup. Tinggal dicelupin kan gampang. Ngapain pake dibuka begitu, jadi kotor. Seperti di tv itu loh, tinggal celup," kata teman saya menjelaskan. "Kalau itu namanya bukan teh celup, tapi teh gunting hehehe..."
Ooo... Baru nyadar sekarang. Mestinya tinggal celup, beres. Makanya ada benang segala macam.
Itulah akibat ketidaktahuan saya, hal semudah itu pun jadi sulit. Jadi, mengapa ilmu itu penting, karena jika kita tidak mengetahui ilmunya, hal mudah bisa menjadi sulit, apalagi hal sulit jadi makin sulit.
DI TANGAN ORANG YANG TEPAT, GADIS BUTA-TULI-BISU ITU MENJADI TOKOH PEMBAWA INSPIRASI DUNIA (KISAH SUKSES HELEN ADAMS KELLER & ANNE SULIVAN) - Part 1
Helen Adams Keller
Penulis, Aktivis Politik, Dosen, Advokat bagi penyandang cacat
Lahir : Tuscumbia, Alabama, 27 Juni 1880
Wafat : 1 Juni 1968 (umur 87 tahun) di Easton, Connecticut
Ditulis kembali oleh
Alden Praptono
@alden_praptono
Pernahkah terbayang dalam pikiran Anda seandainya Anda menjadi orang yang kehilangan kemampuan melihat sekaligus juga kehilangan kemampuan mendengar dan berbicara? Terbayang bagaimana Anda hendak berkomunikasi dengan orang lain? Atau setidaknya, jika itu misalnya terjadi pada orang lain, anak kecil, yang Anda temui dalam hidup Anda, terbayang bagaimana kita bisa mendidiknya sehingga bisa menjadi orang dengan kemampuan yang tidak kalah dengan orang yang normal? Bagi saya, sulit sekali memikirkan “bagaimana” nya itu, entah itu saya yang jadi si buta bisu tuli, ataupun saya yang menjadi pengajar bagi si buta bisu tuli itu. Mungkin saya tidak akan memiliki cukup kesabaran. Tetapi, Helen Keller telah membuktikan bahwa bersama sekutu yang tepat, gurunya, kemustahilan itu bisa dia patahkan, bahkan bisa jauh melampaui pencapaian yang dilakukan rata-rata orang normal.
Di sebuah wisma tua “Ivy Green” yang dibangun kakeknya di Alabama, Amerika Serikat, Helen Keller lahir sebagai bayi yang normal pada 27 Juni 1880. Ayahnya, Arthur Henley Keller, selain sebagai editor pada sebuah surat kabar lokal “North Alabamian”, juga mempunyai kesibukan mengurusi perkebunan miliknya sendiri. Arthur juga aktif dalam militer Angkatan Darat Konfederasi dengan pangkat kapten.Sedangkan ibunya, Kate Adams, adalah putri seorang pejuang dari Angkatan Darat Konfederasi Amerika juga yang berpangkat brigadir jenderal. Jadi pasangan muda yang tengah berbahagia karena kehadiran putrinya dalam perkawinan mereka itu termasuk dari kalangan keluarga yang sudah makmur.
Kebahagiaan Arthur dan Kate rupanya tidak berlangsung lama. Belum genap umur 19 bulan si kecil Helen menderita sakit yang sulit dijelaskan secara pasti oleh ilmu kedokteran pada saat itu. Meskipun sakitnya tidak terlalu lama, namun membawa efek yang fatal bagi Helen. Balita lucu itu menjadi buta dan tuli. Dan sebagaimana yang selalu terjadi jika anak kecil tuli sebelum bisa berbicara, maka ia pun menjadi bisu juga. Otomatis balita itu sama sekali tidak bisa berkomunikasi secara normal dengan orang lain. Hanya dengan sentuhan atau rabaan dia bisa menerima pesan yang disampaikan orang lain, itu pun dengan cara tidak mudah.
Masa-masa sulit dan menyedihkan bagi kehidupan Helen kecil akibat ketidakmampuannya berkomunikasi dengan orang lain, membuat ia menjadi anak yang sangat temperamental dan susah diatur. Dia gemar merusak dan menghancurkan perabotan rumah seperti gelas dan piring kaca. Hampir-hampir keluarga itu frustasi dengan apa yang terjadi pada Helen. Bahkan, di puncak frustasinya itu mereka seakan telah menyerah kepada keadaan karena sepertinya sudah ditakdirkan bahwa putri mereka itu mempunyai tingkat kecerdasan yang rendah, tidak bisa diatur, tidak mungkin dididik dan tidak akan menjadi apapun. Itulah gambaran keputusasaan kedua orang tua Helen atas nasib putrinya akibat petaka yang sebenarnya tidak seorangpun menginginkannya.
Namun, separah apapun rasa putus asa orang tua atas anaknya, sepanjang mereka masih memiliki cinta di dalam hatinya, pada saatnya Tuhan akan membari jalan keluar atas kesulitan yang dihadapi umatnya. Pada saat Helen berusia 6 tahun, ibunya membaca sebuah buku karya Charles Dicken yang berjucul Catatan Amerika, yang menggugahnya untuk mencari ahli yang mungkin bisa membantu mengatasi masalah putrinya. Mereka kemudian berkonsultasi kepada Dr. Julian Chisolm di Barltimore. Dr. Julian memberi konfirmasi bahwa Helen hampir bisa dipastikan mengalami buta dan tuli secara permanen. Betapa terpukul dan sedihnya orang tua Helen demi mendengar penjelasan Dr Julian. Demi melihat kesedihan Kate dan Arthur itu, Dr Julian berusaha membesarkan hati mereka agar tidak menyerah. Helen boleh saja mengalami buta dan tuli sepanjang hidupnya, namun bukan berarti Helen tidak bisa diajari untuk bisa hidup dan berkomunikasi seperti halnya orang normal. Kemudian mereka disarankan untuk menemui seorang ahli yang banyak mengajari anak-anak tuli yang bernama Alexander Graham Bell.
Kemudian atas saran dari Alexander Graham Bell, orang tua Helen menghubungi Michael Anagnos, Direktur Institut Perkins di South Boston untuk bisa mendapatkan guru privat bagi putrinya. Institut Perkins adalah sekolah bagi orang-orang buta. Terdorong rasa empati atas apa yang dialami Helen, Michael Anagnos merekomendasikan kepada salah seorang guru yang merupakan alumnus dari sekolah itu, seorang guru wanita bernama Anne Sulivan. Orang tua Helen pun mengikuti rekomendasi itu dan menemui Anne Sulivan agar bersedia menjadi guru privat putrinya.
![]() |
| Anne Sulivan |
Anne Sulivan – nama lengkapnya Johanna Mansfeld Sullivan Macy - datang dalam keluarga Helen pada tahun 1887. Harapan keluarga Helen dengan kehadiran Anne sebenarnya hanyalah ingin agar Helen bisa berkomunikasi secara normal, mandiri dan mendapatkan berbagai pengetahuan umum sebagaimana anak-anak lain yang normal. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa ternyata Anne Sulivan, yang seorang penyandang tuna netra juga namun tidak tuli, adalah memang orang yang tepat bagi Helen Keller sehingga suatu saat kelak Helen Keller menjadi orang yang mempunyai banyak prestasi melebihi pencapaian orang-orang kebanyakan yang berstatus normal, dan melampaui harapan dan mimpi kedua orang tuanya.
Pada awalnya Helen yang temperamental dan susah diatur itu tidak serta merta bisa dengan mudah “ditundukkan” oleh sang guru barunya. Namun Anne Sulivan bukanlah orang yang gampang menyerah, dia juga cerdas. Berbagai cara dia coba untuk membuat – yang terpenting – Helen mau menurut dan mengikuti semua instruksi-instruksinya. Keberhasilan awal mulai terlihat ketika Anne membawa Helen pindah ke tempat yang terpisah tidak dari rumahnya dan lebih sepi, hanya mereka berdua yang tinggal. Di tempat itu secara bertahap Helen diajari agar menjadi anak yang patuh dan lebih beretika. Dan berkat ketelatenan Anne, secara perlahan sikap bengal Helen mulai berubah menjadi penurut kepada sang guru. Dan itu adalah langkah awal yang tepat bagi Anne untuk kemudian mengajarkan lebih banyak hal lagi kepada Helen.
Ketika Helen telah mulai menuruti instruksi Anne, segera terlihat kemajuan lain yang menunjukkan bahwa Helen ternyata anak yang cerdas dan berbakat. Ketika Anne memompakan air dingin ke atas tangan Helen, Anne mengeja kata air ke sebelah tangan Hellen. Gerakan tangan sang guru pada telapak tangannya itu segera dia respon sebagai ide dari sebuah objek yang bernama air. Dan itu tidak memerlukan waktu lama untuk membuat Helen akhirnya paham. Sukses dengan pengajaran tentang air ternyata merangsang keinginan Helen untuk belajar lebih banyak lagi tentang objek-objek lainnya. Tentu saja progress yang bagus ini sangat menggairahkan sang guru untuk terus mendidik Helen sampai maksimal.
![]() | |||
| Helen Keller membaca gerak bibir gurunya, Anne Sulivan, dengan telapak tangannya di atas sebuah pohon dengan ditemani anjing kesayangannya. |
Kesan yang mendalam atas awal pendidikan yang Helen terima dari Anne serasa terbukanya jendela dari sebuah kamar kegelapan. Sehingga dalam autobiografinya yang berjudul The Story of My Life, yang diterbitkan tahun 1903, Helen menulis kesan itu :
“Kami berjalan menuruni jalanan ke rumah, ditarik oleh aroma sarang lebah yang tertutup. Seseorang menggambar air dan guruku menempatkannya di bawah tanganku sesuatu yang memancar. Sewaktu arus dingin yang memancar, di atas sebelah tanganku yang lain guruku mengeja kata air, awalnya lambat, lalu diulangi lagi. Aku masih berdiri, seluruh perhatianku terpusat pada gerakan-gerakan tangannya. Tiba-tiba aku merasa kesadaranku yang berkabut akan sesuatu yang telah terlupakan, suatu ingatan yang mendebarkan kembali, dan bagaimana misteri dari bahasa terungkap olehku.”
Sejak itu kemajuan Helen dalam mempelajari berbagai hal mencengangkan. Kecerdasannya makin terlihat dalam mencerna semua pelajaran yang maju secara pesat melampaui dari apa yang pernah dilihat orang lain sebelumnya pada seorang yang buta dan tuli. Pelajaran pun berlanjut pada bagaimana mengenal huruf,dan kemudian diteruskan dengan membaca, baik dengan huruf braile maupun dengan mengetik dengan mesin ketik biasa.
Perjalanan pendidikan akademis Helen sejak awal ia mengenal lembaga pendidikan menjadi wahana yang menggodog dan menempa sikap mentalnya, serta mengasap kemampuanya yang terpendam. Berbagai lembaga dan institusi pendidikan dia ikuti. Semua tentu tidak lepas dari pedampingan dan pengawasan sang guru, Anne Sulivan. Secara berturut-turut wahana pendidikan yang pernah diikutinya sebagai berikut: Mulai bulan Mei, 1888, Keller menghadiri Institut Perkins untuk Wright-Humason untuk orang tuli, dan belajar dari Sarah Fuller di Horace Mann sekolah untuk orang tuli. Kemuidian pada tahun 1896, mereka kembali ke Massachusetts dan Helen Keller masuk Sekolah Cambridge untuk Wanita muda sebelum memperoleh pengakuan, pada tahun 1900, Hellen kuliah Radcliffe College, di mana ia tinggal di Briggs Hall, Gedung Selatan. Pengagumnya, Mark Twain, telah memperkenalkannya kepada raja Minyak Standar Huttleston Henry Rogers, yang, bersama istrinya Abbie, membayar biaya pendidikan Helen. Pada tahun 1904, pada usia 24, Keller lulus dari Radcliffe, menjadi orang buta dan tuli yang pertama mendapatkan gelar Bachelor of Arts dan lulus dengan predikat Magna Cum Laude. Dia mempertahankan korespondensi dengan seorang pedagog dan filsuf Austria Wilhelm Yerusalem, yang merupakan salah satu orang pertama yang menemukan bakat sastranya.
Dunia penulisan rupanya menjadi bidang yang menarik bagi Helen sejak kecil. Saat umur 11 tahun ia telah menulis buku The King Frost, sebuah tulisan yang kemudian menjadi kontroversi karena ada yang menuduh bahwa tulisan itu merupakan hasil jiplakan dari The Frost Fairies karya Margareth Canby. Atas kontroversi itu kemudian ada yang melakukan investigasi untuk mencari fakta yang sesungguhnya. Dari investigasi itu disimpulkan bahwa Helen tidak bermaksud secara sengaja menjiplak karya Canby tersebut. Namun, masih dari hasil investigasi, dimungkinkan bahwa Helen mengalami cryptomnesia, semacam sindrom tentang alam bawah sadar ketika dia pernah dibacakan cerita karya Canby itu yang masih merekamnya, namun secara ingatan dia lupa sehingga seakan-akan tidak pernah terjadi dalam hidupnya.
Minatnya pada penulisan pun berlanjut hingga menjadi pilihan karir ketika telah lulus dari perguruan tinggi. Selain itu ia juga menjadi aktifis yang banyak bergerak pada program-program khusus untuk penyandang cacat. Pada tahun 1915 bersama George Kessler ia mendirikan Organisasi "Helen Keller International "(HKI). Misi organisasi ini khusus untuk menyelenggarakan penelitian kesehatan dan gizi. Pada tahun 1920 Helen Keller ikut berpartisipasi aktif bagi negerinya dengan membantu untuk menemukan American Civil Liberties Union (ACLU). Dengan selalu didampingi Anne Sulivan, Helen Keller melakukan perjalanan ke lebih dari 39 negara. Di Jepang Helen Keller menjadi sosok yang difavoritkan masyarakat setelah beberapa perjalanan dia lakukan di negeri sakura itu.Helen Keller juga banyak melakukan aktifitas yang berkaitan dengan politik negara, seperti menemui dan memberi masukan kepada para presiden yang berkuasa di Amerika Serikat. Semua presiden yang berkuasa pada saat Helen menjadi aktifis pernah ditemuinya. Ia juga menjalin hubungan baik dengan tokoh-tokoh ternama saat itu seperti Alexander Graham Bell, Charlie Chaplin dan Mark Twain. Keller dan Mark Twain mempunyai pandangan politik yang hampir sama. Pandangan politik keduanya yang dianggap radikal pada awal abad ke-20 menjadikan mereka banyak dijauhi politisi-politisi lain sehingga tersingkir dan tidak populer lagi di mata masyarakat.
Di sela-sela menjadi aktifis sosial dan politik, melakukan perjalanan ke berbagai negara di dunia dan bertemu tokoh-tokoh besar, Helen tetap produktif menulis. Sepanjang hidupnya dia menulis sebanyak 12 judul buku yang diterbitkan, serta beberapa artikel di media masa. Buku The Story of My Life adalah autobiografinya yang ia tulis saat usia 22 tahun, yaitu tahun 1903. Dalam autobiografi yang menceritakan kisah hidupnya hingga usia 21 tahun itu ia banyak menampilkan tulisan-tulisannya yang ia tulis saat masih kuliah. Kesuksesan penebitan autobiografi itu tidak lepas dari bantuan dari Anne Sulivan dan suaminya John Macy. Beberapa buku lain yang diterbitkan di antaranya: The World I Live In (1908), kumpulan esai tentang socialism Out of the Dark (1913), autobiografi spiritual My Religion (1927) yang kemudian diterbitkan kembali dengan titel Light in my Darkness. Karya terakhir Helen berjudul Teacher yang menceritakan tentang guru hidupnya, Anne Sulivan. Awalnya tulisan ini musnah terbakar akibat kebakaran di rumahnya di Arcan Ridge. Helen kemudian menulis kembali kisah tersebut dan diterbitkan pada tahun 1955, 7 tahun setelah tulisan aslinya terbakar.
![]() |
| Adegan dalam film Helen Keller in Her Story (1953) yang menggambarkan Helen belajar menjadi pembicara dengan meraba gerak pipi dan telapak tangan Anne Sulivan. |
Kisah hidup dan semangatnya untuk tidak menyerah pada keterbatasan sangat menginspirasi dunia. Karena itu Helen dengan ditemani Anne Sulivan, guru sekaligus teman terdekatnya, banyak melakukan perjalanan keliling dunia untuk membantu memberikan motivasi kepada orang-orang di berbagai Negara, terutama mereka yang menderita buta dan tuli. Dari semua tour yang dilakukannya ke berbagai Negara itu, peran Anne Sulivan sungguh sangat besar, mulai dari mendampingi dan menjadi juru bicara sekaligus penerjemah, memberikan nasehat, sampai menjadi dubber pada saat Helen tampil di panggung. Karena itu sesungguhnya menceritakan kisah sukses Helen Adams Keller berarti juga bercerita tentang kesuksesan Anne Sulivan, yang telah dengan sangat telaten mendidiknya menjadi melek aksara dan pengetahuan, membantu dalam proses penulisan dan penerbitan buku-buku Helen, hingga menjadi pendamping yang multifungsi dalam setiap kegiatan Helen.
(BERSAMBUNG ke part 2)
Thanks to :
www.afg.org, http://agrace2011.blogspot.com, http://acipnashief.blogspot.com
Rabu, 01 Mei 2013
My Mother My Angel ; Tangan Ibu Tangan Terindah
Tulisan berikut adalah kiriman seorang teman dengan judul yang sama melalui sebuah milist. Saya posting di sini karena tulisan ini begitu menyentuh, dan selalu mengingatkan kepada sosok ibu saya yang juga sudah semakin tua saat membacanya.
Ada sedikit editing yang saya lakukan, namun tidak mengurangi maknanya.
Terima kasih untuk sahabat saya yang telah mengirimkan tulisan indah ini.
Ada sedikit editing yang saya lakukan, namun tidak mengurangi maknanya.
Terima kasih untuk sahabat saya yang telah mengirimkan tulisan indah ini.
- Alden praptono -
![]() |
| foto By pixieGraphy - flickr.com |
IBU
Ketika
ibu saya berkunjung, ia mengajak saya
untuk berbelanja bersamanya
karena
dia membutuhkan sebuah gaun yang baru.
Saya sebenarnya tidak suka pergi berbelanja
bersama dengan orang lain,
dan saya bukanlah orang
yang sabar,
tetapi
walaupun demikian kami berangkat juga
ke pusat
perbelanjaan tersebut.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan
gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi
gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring waktu
yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.
Kami mengunjungi setiap toko yang menyediakan
gaun wanita, dan ibu saya mencoba gaun demi
gaun dan mengembalikan semuanya. Seiring waktu
yang berlalu, saya mulai lelah dan ibu saya mulai frustasi.
Akhirnya
pada toko terakhir yang kami
kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru
yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya
terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya.
Karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini
saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya
dalam ruang ganti pakaian, saya melihat
bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan
dengan susah mencoba untuk mengikat talinya!
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai
dilumpuhkan oleh penyakit radang
sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya.
Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh
suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
kunjungi, ibu saya mencoba satu stel gaun biru
yang cantik terdiri dari tiga helai. Pada blusnya
terdapat sejenis tali di bagian tepi lehernya.
Karena ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini
saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya
dalam ruang ganti pakaian, saya melihat
bagaimana ia mencoba pakaian tersebut, dan
dengan susah mencoba untuk mengikat talinya!
Ternyata tangan-tangannya sudah mulai
dilumpuhkan oleh penyakit radang
sendi dan sebab itu dia tidak dapat melakukannya.
Seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh
suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya.
Saya berbalik pergi dan
mencoba menyembunyikan air
mata yang keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya
kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan
tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah,
dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi
kejadian tersebut terukir dan tidak dapat
terlupakan dari ingatan saya.
mata yang keluar tanpa saya sadari.
Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya
kembali masuk ke kamar ganti untuk mengikatkan
tali gaun tersebut. Pakaian ini begitu indah,
dan dia membelinya.
Perjalanan belanja kami telah berakhir, tetapi
kejadian tersebut terukir dan tidak dapat
terlupakan dari ingatan saya.
Sepanjang
sisa hari itu, pikiran saya tetap saja
kembali
pada saat berada di dalam ruang ganti pakaian
tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang
sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua
tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah
menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan
baju, membelai dan memeluk saya, dan
terlebih dari semuanya, tengadah berdoa untuk saya.
Sekarang tangan itu telah menyentuh
hati saya dengan cara yang paling membekas
dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar
ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ...
dan - yang membuatnya terkejut -
memberitahukannya bahwa bagi saya kedua
tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di
dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan
telah membuat saya dapat melihat dengan mata
baru, betapa bernilai dan berharganya kasih
sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.
Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu
hari kelak tangan saya dan hati saya akan
memiliki keindahannya tersendiri.
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala
ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu
pun yang dapat menandingi keindahan tangan
Ibu...
tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang
sedang berusaha mengikat tali blusnya. Kedua
tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah
menyuapi saya, memandikan saya, memakaikan
baju, membelai dan memeluk saya, dan
terlebih dari semuanya, tengadah berdoa untuk saya.
Sekarang tangan itu telah menyentuh
hati saya dengan cara yang paling membekas
dalam hati saya.
Kemudian pada sore harinya, saya pergi ke kamar
ibu saya, mengambil tangannya, menciumnya ...
dan - yang membuatnya terkejut -
memberitahukannya bahwa bagi saya kedua
tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di
dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan
telah membuat saya dapat melihat dengan mata
baru, betapa bernilai dan berharganya kasih
sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.
Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu
hari kelak tangan saya dan hati saya akan
memiliki keindahannya tersendiri.
Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala
ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu
pun yang dapat menandingi keindahan tangan
Ibu...
Selasa, 30 April 2013
GEORGE DAWSON, PENULIS BEST SELLER YANG MULAI BELAJAR MEMBACA DAN MENULIS SAAT UMUR 98 TAHUN
![]() |
| Dallasite George Dawson |
Terlahir sebagai orang kulit hitam pada masa
revolusi dan situasi politik yang rasis di Amerika Serikat bukanlah hal yang
menguntungkan. Dallasite George Dawson, cucu seorang budak kulit hitam, lahir dalam
keluarga petani di wilayah dekat Marshal, Texas, pada 19 Januari 1898. Ayahnya,
meskipun hidup sebagai petani miskin, mempunyai pandangan yang menarik tentang
kekayaan dan kehidupan. Bahwa sekalipun mereka tidak memiliki apa-apa, bukan berarti harus merasa menderita, karena
“hidup ini sungguh baik” adalah filosofi yang dipegang kuat sang ayah, dan itu
ditanamkan secara kuat kepada anaknya.
Dawson kecil mulai bekerja saat dia baru
berumur 4 tahun. Dan pada umur 8 tahun dia telah menjadi pekerja pertanian full
time. Ketika menginjak usia 12 tahun Dawson mulai merantau jauh dan bekerja
pada sebuah pertanian milik orang kulit putih dengan bayaran $1.50 per bulan.
Hidupnya yang berat terus berlanjut dengan
berbagai macam pekerjaan yang dia lakoni. Semuanya adalah pekerjaan kasar
seperti memunguti kapas dan tebu, menghalau kuda-kuda liar, menjadi kuli pada
pembangunan tembok tebing sungai Missisipi, menggaruk kotoran ke dalam kereta
yang ditarik kuda atau keledai muda. Menjadi kuli pada proyek pembangunan jalan
kereta api dan jalan raya juga sudah pernah Dawson jalani. Semua kesibukan
untuk sekedar menyambung hidup itu membuatnya tidak pernah berkesempatan untuk
mengenyam pendidikan, bahkan untuk sekedar mengenal huruf ABC sekalipun. Karena
ketidakmampuannya soal baca-tulis itu, salah satu majikannya ketika ia bekerja
pada sebuah usaha penggergajian kayu menyuruh Dawson untuk menorehkan X sebagai tanda
tangan pada selembar kertas yang dia sama sekali tidak bisa membaca tulisannya.
Meskipun hidupnya berat dan miskin, bukan
berarti Dawson harus larut dalam penderitaan. Ada masa-masa senang yang dia
rasakan di antara beratnya pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Pada umur
21 tahun dia melakukan perjalanan melintasi Amerika ke Kanada untuk sekedar
melihat salju. Setelah itu dia pergi ke Mexico. Di negera ini dia sangat takjub
ketika mendapati bahwa orang-orang kulit hitam bisa memilih sendiri kafe yang disukainya, dan dilayani
dengan baik sebagai tamu di café
tersebut, hal yang sama sekali tidak pernah dia lihat di
Amerika.
Pada 1928, setelah 9 tahun berkelana, Dawson
kembali menemui keluarganya di Marshall, dan membawanya pindah domisili. Dia
menikah dengan Elzenia Arnold, seorang perempuan yang melek huruf, dan tinggal
di Dallas ketika dia mendapatkan pekerjaan pada proyek jalan raya kota hingga
mendapatkan tujuh orang anak. Pada masa pertumbuhan anak-anaknya, dia sering
membantu mereka mengerjakan PR sekolah mereka, meskipun dia sendiri sama sekali
tidak bisa baca-tulis. Dan pada tahun 1938 dia mendapatkan pekerjaan pada
perusahaan pembuat dan penyimpanan susu hingga pensiun saat usia 79 tahun.
Meskipun kehidupannya keras dan pergaulannya
dengan kalangan bawah, Dawson tidak merokok dan juga tidak minum minuman keras.
Dia juga senang memasak sendiri makanan hariannya, sehingga tahu betul makanan
macam apa yang dia konsumsi setiap harinya. Mungkin karena itulah dia jarang
mendapat gangguan kesehatan yang serius
dan panjang umur.
Suatu hari di tahun 1996, saat dia berumur 98 tahun, datang
seorang relawan pada program pendidikan dasar untuk orang dewasa setempat. Program itu diadakan oleh The Lincoln
Instructional Center bekerjasama dengan The Dallas County Adult Literacy
Council. Laki-laki yang menjadi relawan itu memberitahukan kepada Dawson bahwa kelas
pendidikan untuk para orang tua akan segera diselenggarakan di dekat tempat tinggalnya,
hanya beberapa blok dari rumah Dawson. Dengan sangat antusias Dawson menjawab,”
Tunggu, akuambil jasku dulu.”
![]() |
| Dawson belajar di kelas baca-tulis bersama instrukturnya Carl Henry |
Pelajaran baca-tulis
ABC dia lalui dalam 2 hari. Kemudian dilanjutkan dengan pelajaran penulisan kursif
(tulisan miring dan sambung menyambung), tanpa melalui pelajaran menulis huruf cetak.
Dan begitu dia mengenal penulisan kursif, hal yang segera dia lakukan adalah mengganti
tanda tangannya, yang tadinya berbentuk huruf X diganti dengan tanda tangan yang lebih sempurna.
Ketekunan dan gairah
George Dawson dalam mengikuti kelas pendidikan dasar yang umumnya ditempuh
orang pada masa kanak-kanak ini menginspirasi banyak orang di seantero Amerika.
Bahkan kemudian Dawson mendapat sebutan sebagai “poster anak-anak favorit Amerika
untuk melek huruf”.
“Melihat Pak Dawson belajar membaca merupakan
pengalaman terhebat sepanjang hidup saya,” ungkap Carl pada tahun 1998. “Pak
Dawson telah menentukan bahwa beliau akan belajar membaca. Dan penentuan ini menjadi
hal yang paling menakjubkan yang ingin diketahui banyak orang, dan saya
melihatnya sendiri. Ini sungguh-sungguh keajaiban yang fantastis.”
Dua tahun sejak mulai belajar mengenal huruf, setelah lancer baca tulis, Dawson menjadi co-writer Richard Glaubman menulis autobiografinya yang
berjudul “Life is so good”, yang merupakan cerita hidup Dawson yang sangat memegang
teguh filosofi hidup dari ayahnya bahwa hidup ini begitu baik. Buku tulisannya itu
diterbitkan secara luas pada tahun 2000 dan menjadi buku best seller nasional.
![]() | |
| "Life Is So Good" buku best seller karya George Dawson bersama Richard Glaubman |
Di dalam buku itu secara lugas diungkapkan bagaimana pandangan seorang warga kulit hitam mengenai sikap rasialis dimana perilaku ini sering lebih banyak memakan korban dari kalangan warga kulit hitam, dan menceritakan bagaimana masa-masa mengikuti program melek baca-tullis yang diikuti oleh Dawson. Dan sejak penerbitan buku itu, Dawson menjadi kesayangan media masa seperti acara TV "Oprah Winfrey," "Nightline," "Good Morning America" dan "Sunday Morning." Media cetak pun tidak kalah ramai menampilkan profil dan kisah hidupnya yang inspiratif itu.
Pada satu kesempatan di acara televisi, Dawon
mengungkapkan,” Henry (Carl Henry) benar-benar merupakan malaikat hidup saya.”
Mungkin itulah ungkapan yang tidak berlebihan seorang George Dawson yang selama
98 tahun tidak bisa membaca dan menulis, dan atas bimbingan Carl Henry, dua
tahun kemudian dia bisa menulis buku, dan ketika merayakan 100 tahun hidupnya
buku itu diterbitkan dan menjadi buku best seller.
George Dawson meninggal pada 5 Juli 2001
karena serangan stroke. Pada masa-masa akhir hidupnya merupakan masa yang
sangat menggairahkan bagi dia untuk terus belajar dan belajar. Dan semangatnya
itu menginspirasi banyak anak muda. Mereka banyak yang tertarik untuk
berkunjung ke ruang kelas George Dawson, tempatnya mengenyam pendidikan mengenal
huruf dan tulisan. Geoergo Dawson, seorang kulit hitam
yang mengalami hidup di 3 abad yang berbeda. Dia lahir pada abad 19, tumbuh
kembang dan menjalani 98% hidupnya di abad 20, dan masa-masa akhir cerita
hidupnya yang happy ending di abad 21.
Rupanya benar kata-kata bijak bahwa tidak ada kata terlalu tua untuk memulai belajar, untuk memulai hal-hal baru dalam hidup. Banyak contoh membuktikan orang-orang yang sukses yang ketika memulainya telah berusia tidak muda lagi. George Dawson adalah salah satu contoh nyata ungkapan bijak itu.
(Alden Praptono)
Langganan:
Postingan (Atom)









