Tampilkan postingan dengan label malaikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label malaikat. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2013

SUAMIKU MALAIKATKU; KISAH KESETIAAN SEORANG SUAMI KEPADA ISTERINYA



Lelaki yang sudah tidak muda lagi ini namanya cukup sering menghiasi berbagai media masa di Indonesia, baik media konvensional maupun online. Jika dulu dia lebih dikenal sebagai pengusaha di bidang index saham dan investasi, dan mempunyai andil yang tidak kecil pada perkembangan pasar modal di negeri ini, maka dalam beberapa tahun belakangan ini dia lebih banyak dikenal lagi karena dibalik kesuksesan bisnisnya, dia mempunyai kisah hidup pribadi yang mengharukan dan patut menjadi inspirasi bagi semua suami di dunia ini.

Nama lengkapnya Eko Pratomo Suyatno, tapi lebih sering disebut Suyatno saja.Usianya mungkin sudah menginjak 60 tahun.Dia merupakan pemilik sebuah perusahaan besar di bidang investasi reksadana yang cukup bagus reputasinya di negeri ini.Sebagai seorang pengusaha sukses, dia dan keluarganya mempunyai kehidupan yang cukup baik. Perkawinannya dengan isteri tercinta lebih dari 30 tahun yang lalu juga sangat bahagia, dan telah mendapatkan 4 orang anak yang kini telah tumbuh dewasa semua.

Kehidupan rumah tangganya yang bahagia itu mendapatkan cobaan berat sesaat setelah isterinya melahirkan anak ke empatnya. Setelah melahirkan, tiba-tiba ke dua kakinya lumpuh tidak bisa digerakkan. Kondisi itu berlangsung hingga 2 tahun. Kondisinya kemudian bukannya membaik, pada tahun berikutnya  justeru kelumpuhan itu terjadi pada seluruh tubuhnya. Lidahnya tidak bisa digerakkan, otomatis juga tidak bisa berbicara. Satu-satunya cara berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan menggunakan bahasa isyarat mata.

Menghadapi kondisi isterinya yang seperti itu, Pak Suyatno tetap tabah dan dengan sabar merawat dan mengurusi segala keperluan isterinya. Dia ingin menunjukkan cinta yang sesungguhnya kepada isterinya yang sekarang lumpuh itu dengan cara mengurus langsung semua kebutuhan isterinya, walaupun sebenarnya dia bisa membayar seseorang untuk melakukan semua itu. Namun kebesaran cinta pada isterinya membuat dia tetap kuat dan setia melayani isterinya.Sedangkan pembantu-pembantu yang ada ditugaskan untuk mengurus kebutuhan rumah tangga seperti mencuci, memasak, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan rumah tangga. Sedangkan mengurusi isteri dan keempat anaknya dia lakukan sendiri, karena memang secara otomatis dia juga berperan sebagai ibu bagi ke empat anaknya.Pak Suyatno merawat anak-anaknya seperti halnya yang dilakukan istrinya di kala sehat, antara lain menyiapkan sarapan dan baju seragamnya, juga menemani mereka bermain dekat dengan ibunya.

Sebelum berangkat ke tempat usahanya setiap hari, Pak Suyatno selalu menyempatkan diri memandikan, membersihkan kotoran, menggantikan pakaian dan menyuapi isteri tercintanya. Agar sang isteri tidak kesepian saat ditinggal, dia dekatkan sang isteri pada sebuah televise di ruangannya.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum. Untunglah tempat usaha pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Meski istrinya hanya bisa memandang tanpa bisa menanggapi, Pak Suyatno dengan setia mengajak istrinya duduk di belakang dia saat Pak Suyatno shalat, seperti sedang berjamaah. Ia-pun sering mengajak istrinya mengaji atau mendengarkan Pak Suyatno mengaji dan juga mengajak sang istri berzikir, meski hanya dalam hati. Semuanya itu dijalani Pak Suyatno dengan ikhlas dan ia sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap hari, agar istrinya tersenyum.

Rutinitas ini sudah dilakukan pak Suyatno selama 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa dan sudah menjadi Sarjana, tinggal si bungsu yang masih duduk di bangku kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak Suyatno memutuskan untuk merawat sendiri ibu mereka. Yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata ” Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak………bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, “Sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya.Kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini? Terus terangi kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian kalau bapak menikah lagi”.
Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anak mereka, “Anak-anakku ………, terima kasih atas saran kalian. Hanya saja bapak punya prinsip yang tidak dapat ditawar lagi. Bagi bapak, jikalau perkawinan dan kehidupan di dunia ini hanya untuk memenuhi nafsu kita, terutama nafsu birahi mungkin bapak akan menikah lagi sudah sedari dulu……Tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disamping bapak, bagi bapak itu sudah lebih dari cukup. Dia telah melahirkan kalian.. “ Sejenak kerongkongannya tersekat,” Anakku, kalian yang selalu bapak dan ibu rindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menggantinyai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah batin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang?Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Allah swt kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yang masih sakit? Jujur saja nak, bapak tidak sampai hati, meninggalkan ibumu” kali ini ada tetesan air mata di sudut mata Pak Suyatno. Seketika meledaklah tangis anak-anak pak Suyatno, kemudian merekapun melihat juga butiran-butiran bening jatuh dipelupuk mata ibunya, yang dengan pilu ditatapnya mata sang suami yang sangat setia dan sangat dicintainya itu..

Akibat kesetiannya selama puluhan tahun tersebut, sampailah akhirnya pak Suyatno diundang oleh Metro TV untuk menjadi nara sumber pada acara Kick Andy. Di acara itu mereka mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno, bagaimana beliau mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa itu? Mengingat waktu tersebut bukan waktu yang pendek untuk menguji batas kesabaran dan ketabahan manusia biasa.

Pada saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio. Kalau boleh menebak, tangis Pak Suyatno bukanlah karena beban dia yang berat selama bertahun-tahun itu, melainkan karena membayangkan penderitaan isteri tercintanya yang tak kunjung berakhir setelah lebih dari seperempat abad berlalu. Kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru, lalu disitulah Pak Suyatno bercerita.

“Bagi saya, jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau berkorban dengan memberi ( memberi waktu, memberi tenaga, pikiran dan perhatian ) adalah hanya kesia-siaan belaka. Sejak dulu saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dengan tekad kita akan bersama dalam suka maupun duka, hingga Allah swt memanggil kita. Saya tidak akan dapat melupakan jasa-jasa besar istri saya sewaktu dia sehat, diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan batinnya. Ia juga telah memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu, saleh dan pinter. Di mata saya, ia sehat dan masih cantik seperti 30 tahun yang lalu. Saya tidak pernah menganggapnya lumpuh. Saat saya menyuapinya, saya rasakan sama seperti saat saya menyuapinya kala kita berbulan madu. Saat saya menggendongnya untuk naik dan turun dari tempat tidur, saya merasakan seperti saat kita masih berbulan madu. Setiap kali saya melihat wajahnya, sama seperti kala saya melihatnya di kala kami pacaran atau seperti saat saya memandangnya waktu kami berbulan madu"

Pak Suyatno kemudian melanjutkan,"Sekarang dia dalam kondisi sakit setelah melahirkan anak kami. Ia telah berkorban untuk cinta kami bersama. Bagi saya kondisi itu merupakan ujiandari Allah bagi saya atas cinta kami berdua. Apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Dalam kondisi ia sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sedang dalam keadaan sakit. Tidak, tidak, bahkan berpikir untuk itupun saya tidak mau. Biarlah saya ikhlas menjalani takdir Allah ini, saya yakin "Gusti Allah ora sare", Tuhan tidak pernah tidur. Sekecil apapun yang saya berikan kepada istri saya dan anak-anak, saya niatkan hanya untuk ibadah saya kepada Allah swt. Dan saya yakin Allah pasti akan memperhitungkan apapun yang kita perbuat, sekecil apapun. Saya berusaha mengikuti Rasulullah, tauladan saya yang mencintai dan melayani istrinya, bukan hanya dilayani. Sekarang ini harapan saya hanya satu, ijinkan saya merawat istri saya yang sangat saya cintai hingga Allah memanggil salah satu diantara kita. Kalapun ia dipanggil lebih dulu, saya bertekad untuk tetap mencintainya dan tidak akan menikah lagi. Istri saya adalah cinta dunia dan akhirat saya. Kalau Allah mengizinkan kami masuk surga, Insya Allah, saya menginginkan ia jadi Bidadari saya di Surga”

Kali ini Pak Suyatno sama sekali tidak menangis, justru penontonlah yang menangis.

Rasa cinta yang dalam kepada isterinya, membuat Pak Suyatno tetap kuat merawat dan mendampingi isterinya yang lumpuh hingga 25 tahun berlalu. Dalam waktu yang lama itu, tak sekalipun terbersit untuk meninggalkannya, apalagi mencari isteri lagi. Sungguh sangat sulit menemukan sosok yang seperti Pak Suyatno, yang betul-betul bagai malaikat bagi isterinya yang dalam penderitaan panjang. Teladan yang sangat baik bagi semua lelaki di manapun berada. Semoga Allah Swt. selalu melimpahkan rahmatNya kepada Pak Suyatno dan keluarganya. Amiin.

Kamis, 20 Oktober 2011

My Angel... your angel

Dia yang hadir dalam hidumu, membuat hidupmu lebih bersemangat, membuat kamu tetap tegar melangkah, menguatkan kamu untuk tidak pupus harapan pada saat kamu jatuh. Dia yang menginspirasi kamu untuk berani menjadi lebih baik, melahirkan banyak ide-ide baru, atau bahkan menohok relung hati kamu untuk segera bangkit menjadi yang terbaik. Atau dia yang hadir mewarnai hari-harimu, sehingga menjadi lebih indah. Dia juga yang selalu kamu inginkan untuk berbagi pada saat kamu dilimpahi keberkahan, kenikmatan dan keindahan. Bahkan mungkin, karena dia lah kamu mau melakukan dan mempertaruhkan segalanya...

Ternyata, pada saat kita suka ataupun duka, kita selalu membutuhkan dia. Kamu akan merasa lebih tegar dan kuat pada saat duka menghampirimu manakala dia ada bersamamu. Pada saat kamu memperoleh kenikmatan, kamu akan merasakan kebahagiaan manakala kamu telah berbagi bersamanya. Dia... yang ada bersamamu, mungkin dialah malaikat bagimu. Dan pada saat yang lain, kamu akan menjadi malaikat baginya.

Orang ke-19 itu... sang malaikatnya

Dalam beberapa hari belakangan ini, di berbagai media dihebohkan dengan munculnya pemberitaan tentang seorang anak kecil berusia 2 tahun, di China, yang tertabrak dan terlindas 2 mobil yang kemudian melarikan diri. Yang paling membuat banyak orang marah dan mengutuk adalah karena setelah bocah tersebut tergeletak dan bersimbah darah di jalanan, ada banyak orang yang lewat dan menyaksikan si bocah tersebut namun tidak melakukan apapun untuk menolongnya. Bahkan untuk sekedar berhenti sejenak dan mengamati kondisi si bocah itupun mereka tidak melakukannya. Sungguh menyedihkan. Baru kemudian ketika seorang ibu pemungut sampah lewat dan mendapati si bocah malang tersebut, dia segera bergegas menolongnya dan mencari orang tua balita tersebut yang rupanya tidak jauh dari tempat kejadian. Waktu itu hujan mulai turun.

Kecelakaan tragis yang terjadi di sebuah jalanan di Kota Foshan, China, tersebut terekam kamera CCTV setempat, yang kemudian rekamannya disebarluaskan di berbagai media masa, termasuk media online seperti Youtub.com dan menarik perhatian kalangan luas di dunia, serta memunculkan kecaman atas hilangnya kepedulian sesama manusia, termasuk di dalam negeri China sendiri.

Yue Yue dalam gendongan ibunya sebelum kecelakaan.


Bocah perempuan tersebut bernama Yue Yue, berumur 2 tahun. Saat itu, 13 Oktober 2011, sedang berjalan di sebuah jalanan yang sebenarnya tidak terlalu ramai. Tiba-tiba dari arah depan melintas mobil jenis van dengan kecepatan sedang. Sebenarnya jika si sopir cukup memperhatikan jalanan dan melihat ada anak kecil sedang berjalan di jalan itu, dengan kecepatan yang tidak terlalu cepat itu dia bisa segera mengeremnya, atau banting stir ke kanan. Namun karena mungkin sopir mobil itu tidak terlalu memperhatikan jalanan, akhirnya terjadilah tabrakan itu. Begitu merasakan telah menabrak sesuatu, mobil itu sempat berhenti sejenak, namun bukannya si sopir itu turun untuk menolongnya, dia justru kembali berjalan dan roda belakang pun kembali menggilas kaki Yue Yue.

Anak itu mulai bersimbah darah. Bahkan bekas roda mobil penabraknya pun ikut membekaskan jejak ban warna merah darah di jalanan ber aspal itu. Beberapa saat kemudian lewatlah seorang pria muda. Anehnya, pria itu sama sekali tidak terusik dengan kejadian seorang bocah bersimbah darah tergeletak sekarat di pinggir jalan. Dia pun tetap melanjutkan perjalanan seolah tidak terjadi apa-apa. Saat-saat berikutnya, beberapa orang lagi juga melewati jalannan tersebut, namun tak seorangpun yang perduli untuk menolong Yue Yue, bahkan untuk sekedar melihat kondisinya pun mereka tidak melakukannya. Belum selesai sampai si situ, sebuah truk melintas dan rodanya kembali menggilas kaki bocah yang sudah terluka parah itu. Kembali, mobil truk itu pun terus melaju tanpa peduli akan tanggung jawabnya.

Setelah tertabrak untuk ke dua kalinya, beberapa orang yang lewat tetap tidak perduli, seolah yang tergeletak berdarah-darah itu seekor kucing atau ayam yang tidak perlu ditolong apa-apa. Sungguh menyedihkan. Beberapa pengendara motor juga hanya berusaha untuk menghindari Yue Yue agar tidak menggilasnya, tanpa mau menolongnya.

Beberapa media yang menyiarkan rekaman CCTV tersebut menghitung satu per satu setiap orang yang melintas dan memberi nomor secara urut dari yang pertama kali melintas dan tidak mau menolongnya. Setelah dihitung itu, ternyata ada 18 orang yang melintas di jalanan itu dan tak seorangpun mau peduli untuk menolong Yue Yue yang bersimbah darah itu. Baru pada nomor yang ke-19 adalah seorang ibu pemungut sampah, yang tiba-tiba muncul dan tergerak untuk menolongnya. Ibu itu segera memungut Yue Yue dan menaruhnya di pinggir jalan, kemudian berteriak-teriak minta tolong....namun tak seorangpun datang membantunya. Dia kemudian berinisiatif mencari orang tua balita itu. Mungkin karena rumah anak itu tidak jauh dari lokasi kecelakaan, ibu dari Yueyue bisa segera ditemukan dan segera membawanya ke rumah sakit.

Saat tulisan ini saya tulis, 19 Oktober 2011, kondisi balita itu masih koma di Rumah Sakit. Manurut dokter yang menanganinya, kondisinya sangat kritis dan kecil sekali kemungkinan terselamatkan. Tapi saya ikut berdoa, semoga bocah ini bisa selamat, dan sembuh untuk kembali ke dua orang tua yang sangat menyayanginya. Selalu ada secercah harapan dalam kondisi yang sesempit apapun.

Adapun si ibu penolong itu, yang diketahui bernama Chen Xianmei (58), orang ke-19 yang datang menghampiri Yue Yue mendapatkan hadiah uang dari pemerintah setempat 25 ribu yuan (sekitar Rp 34,7 juta) atas kemuliaannya tersebut. Dia menyatakan terkejut atas hadiah itu, dan sama sekali tidak berharap atas hadiah itu sebagai imbalan perbuatannya. Dia merasa hanya harus melakukan sesuatu yang benar, yang harus dilakukan pada saat seseorang yang sedang meregang nyawa membutuhkannya. Bahkan kemudian dia menyumbangkan sebagian dari hadiah tersebut untuk biaya pengobatan Yue Yue di rumah sakit. Satu sikap yang sungguh tulus dan mulia di tengah ketidakpedulian sesama atas sesamanya yang sedang butuh pertolongan, yang pantas kita teladani. (dihimpun dari berbagai sumber)

Saat ini mungkin kita sedang membutuhkan atau mengharap kehadiran seorang malaikat yang akan membantu kita keluar dari sebuah kesulitan. Tapi kita tidak akan pernah tau, siapa malaikat kita, orang ke berapakah yang hadir tersebut adalah malaikatnya....? Sebenarnya, jika kita mau, jauh lebih mudah bagi kita memutuskan untuk menjadi malaikat bagi orang lain, daripada kita berharap orang lain datang sebagai malaikat penolong kita, bahkan pada saat kita sendiri pun sedang dalam kesulitan. Chen Xianmei,  wanita penolong itu, si orang ke-19, hanyalah seorang wanita miskin yang bekerja sebagai pembantu di siang hari dan menjadi pemungut sampah untuk penghasilan tambahan, dan bukan seorang yang kuat secara fisik, namun dengan ketulusannya dia menjadi penolong bagi seorang yang memang sedang sangat menanti pertolongannya.

 Note: 
Diberitakan bahwa kemudian Yue Yue tidak terselamatkan, meninggal pada 21 Oktober 2011 karena kegagalan organ sistemik akibat dari kecelakaan tersebut.