Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label impian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Februari 2013

AYAHKU, MALAIKATKU ; IMPIAN SEORANG ATLET




Olimpiade Barcelona, 1992.
Enam puluh lima ribu pasang mata hadir di stadion itu. Semua hendak menyaksikan event atletik besar di ajang olahraga terbesar seplanet bumi.
Nama lelaki itu Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asal Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade, -apapun medalinya-. Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun 1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding, ia cedera sehingga tak bisa ikut berlomba. Mau tak mau, olimpiade ini, adalah kesempatan terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk mendapatkan medali di nomor lari 400 meter. Karena ia dan ayahnya sudah berlatih sangat keras untuk ini.

Suara pistol menanda dimulainya perlombaan. Latihan keras yang dijalani Derek Redmond, membuatnya segera unggul melampaui lawan-lawannya. Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti kurang 175 meter lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia kan mendapatkan medali yang diimpikannya selama ini.
Namun tak ada yang menyangka ketika justru di performa puncaknya, ketika ia sedang memimpin perlombaan tersembut, tiba-tiba ia didera cedera. Secara tiba-tiba di meter ke 225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki kanannya. Saking sakitnya, seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru. Dan seperti orang yang ditembak kakinya, Derek Redmond pun menjadi pincang. Yang ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki kirinya, melambat, lalu rebah di tanah. Sakit di kakinya telah menjatuhkannya.

Derek sadar, impiannya memperoleh medali di Olimpiade ini pupus sudah.
Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di atas tribun, tanpa berpikir panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak peduli ia menabrak dan menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting adalah ia harus segera menolong anaknya.

Di tanah, Derek Redmond menyadari bahwa impiannya memenangkan olimpiade pupus sudah. Ini sudah kedua kalinya ia berlomba lari di Olimpiade, dan semuanya gagal karena cidera kakinya. Namun jiwanya bukan jiwa yang mudah menyerah.  Ketika tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “Aku tak akan naik tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan perlombaan ini”, katanya.

Maka Derek pun dengan perlahan mengangkat kakinya sendiri. Dengan sangat perlahan pula, sambil menahan rasa sakit dikakinya, ia berjalan tertatih dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin berjalan sendiri ke tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke garis finish.

Di saat yang sama pula Jim, Ayah Derek sudah sampai di tribun bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para penjaga menuju Anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih kesakitan. Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan menolongnya!”

Akhirnya, kurang 120 meter dari garis finish, sang Ayah pun sampai juga di Derek yang menolak menyerah. Derek masih berjalan pincang tertatih dengan sangat yakin. Sang Ayah pun merangkul dan memapah Derek. Ia kalungkan lengan anaknya tersebut ke bahunya.

“Aku disini Nak”, katanya lembut sambil memeluk Anaknya, “dan kita akan menyelesaikan perlombaan ini bersama-sama.

Ayah dan anak tersebut, dengan saling berangkulan, akhirnya sampai di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, Sang Ayah, Jim, melepaskan rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish tersebut seorang diri. Lalu kemudian, barulah ia merangkul anaknya lagi.

Enam puluh lima ribu pasang mata menyaksikan mereka, menyemangati mereka, bersorak bertepuktangan, dan sebagian menangis. Scene Ayah dan anak itu kini seolah lebih penting daripada siapa pemenang lomba lari.

Derek Redmond tak mendapat medali, bahkan ia didiskualifikasi dari perlombaan. Namun lihatlah komentar Ayahnya.

“Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia!, Aku lebih bangga kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”

Dua tahun paska perlombaan lari tersebut, dokter bedah mengatakan kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam perlombaan olahraga.

Namun tahukah Anda apa yang terjadi?

Lagi-lagi, dengan dorongan dari  Ayahnya, Derek pun akhirnya mengalihkan perhatiannya. Dia pun menekuni dunia basket, dan akhirnya menjadi bagian dari timnas basket Inggris Raya. Dikiriminya foto dirinya bersama tim basket ke dokter yang dulu  memvonisnya takkan mewakili negara dalam perlombaan olahraga.

Jika kasih ibu, adalah melindungi kita dari kelamnya dunia, maka kasih sayang seorang Ayah adalah mendorong kita untuk menguasai dunia itu. Seorang Ayah akan senantiasa mendukung, memotivasi, men-support, dan membersamai kita dalam kondisi apapun. Ayah pulalah yang akan meneriakkan kita untuk bangkit, lalu memapah kita hingga ke garis finish. Karena mereka tak ingin kita menyerah pada keadaan, sebagaimana yang ia contohkan. Dia contoh Ayah yang benar-benar menjadi malaikat bagi impian terbesar anaknya.


Jika Anda seorang ayah, pasti Anda ingin anak Anda bisa mewujudkan impian-impiannya, apapun impian tersebut. Jadilah Anda sebagai malaikat baginya, sampai impian-impian itu terwujud seperti yang telah dicontohkan oleh Jim, ayah Derek Redmond.

(diambil dari www.kisahispiratif.com dengan judul Kisah Atlet Inspiratif dan Ayahnya..., dengan beberapa penambahan)

Kamis, 14 Juni 2012

DIBALIK KESUKSESAN PENAKLUKAN PERTAMA PUNCAK EVEREST HIMALAYA


Puncak Everest dengan ketinggian 8.850 m dari permukaan laut merupakan puncak tertinggi dari serangkaian Pegunungan Himalaya, bahkan juga merupakan puncak tertinggi di dunia. Ratusan pendaki telah berusaha menakhlukkannya, dengan hasil yang berbeda-beda. Penakhluk pertama yang tercatat sebagai pendaki yang berhasil menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di Puncak Everest pada 29 Mei 1953 dan berhasil kembali dengan selamat adalah Sir Edmund Hillary, yang meninggal pada 11 Januari 2008 lalu di Auckland, Selandia Baru.

Dibalik kesuksesan pendakian Sir Edmund Hillary, tentu ada tim sukses yang ikut membantunya. Dalam pendakian spektakuler itu dia dibantu sedikitnya 150 orang pendaki professional dan 750 pendukung serta seorang Sherpa (dalam bahasa Nepal berarti pemandu) Tenzing Norgay. Peran Tenzing Norgay ini sangat penting karena jika dia mau, bisa saja ending cerita yang menjadi impian Sir Edmund Hillary akan menjadi berbeda dari yang sekarang sudah tercatat dalam sejarah.


Ketika para pendaki tersebut telah kembali dengan selamat dari Everest, para reporter dari seluruh dunia mewancari Sir Edmund Hillary sebagai pendaki gunung pertama yang berhasil menakhlukkan puncak Everest, dan hanya satu orang reporter yang mewancarai Sherpa Tenzing Norgay.

Reporter itu menanyakan satu hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh para reporter yang lain, “Sebagai seorang pemandu, tentunya Anda berjalan di depan Edmund Hillary, dan mestinya Andalah yang menginjakkan kaki lebih dulu di Puncak Everest sebelum kemudian diikuti oleh Sir Edmund Hillary bukan?”

Jawab Sherpa Norgay,”ya, benar sekali, seharusnya seperti itu. Tetapi pada saat menjelang sampai di puncak, tepatnya 1 langkah sebelum mencapai puncak, saya persilahkan Tuan Edmund Hillary untuk maju lebih dulu dan menginjakkan kaki beliau di Puncak Everest, baru kemudian saya mengikutinya di belakang..”

Dengan penuh keheranan reporter itu melanjutkan pertanyaannya,” Mengapa Anda lakukan itu? Anda telah melepaskan sebuah kesempatan untuk menjadi sejarah pendakian dari sebuah puncak yang belum pernah tertakhlukkan sebelumnya?”

Jawab Norgay,” Karena itu adalah impian Sir Edmund Hillary, bukan impian saya. Impian saya adalah mengantarkan Sir Edmund Hillary mencapai impiannya untuk menjadi orang pertama yang menginjakkan kakinya di Puncak Everest. Dan kami sama-sama mendapatkan impian itu.”

*********
Alden Praptono (diolah dari berbagai sumber)

Sabtu, 12 November 2011

Tulisan lama; MAMMOTH & KELUARGA POSUM

Note:
Tulisan ini pernah saya posting di beberapa group milist dan forum pada tahun 2007. Waktu itu saya aktif menulis di beberapa forum dan milist, tetapi belum berminat membuat blog. Dengan beberapa editing, tulisan ini saya tampilkan kembali di blog ini.

MAMMOTH & KELUARGA POSUM

Pernah nonton film animasi ICE AGE 2? Dalam film itu diceritakan ada seekor gajah purba betina (Mammoth) bernama Elie yang sejak bayi tumbuh bersama keluarga Posum (masih segolongan tikus tanah). Keluarga Posum mendidik dan mengajari hidup Elie ala kehidupan Posum. Bahkan ditanamkan pula keyakinan bahwa Elie adalah seekor Posum. Pendidikan yang diterima Elie ini sangat membekas dalam diri dan keyakinannya.

Ketika mulai tumbuh dewasa Elie tetap menjalani hidup ala Posum. Meskipun tubuh Elie jauh lebih besar dibanding “saudara-saudara” lainnya, Elie tetap yakin bahwa dirinya adalah Posum. Sebagaimana kehidupan bangsa Posum yang hanya menjadi pengerat dan menggali lobang di tanah, Elie pun belajar melakukan kegiatan-kegiatan serupa. Dia tidak mau melakukan hal-hal besar karena menurutnya bangsa Posum bukanlah untuk melakukan hal-hal besar dan nggak mungkin bisa melakukan pekerjaan berat dan besar. Itu bukan porsi mereka, kata bangsa Posum.

Suatu hari Elie ketemu dengan seekor Mammoth lain bernama Many. Kepada Many, Elie menceritakan dengan bangga kehidupannya sebagai keluaraga Posum. Many merasa ada yang salah dengan Elie. Karena itu dia berusaha meyakinkan Elie bahwa dia bukanlah posum, melainkan gajah yang bisa melakukan hal-hal yang jauh lebih hebat daripada yang bangsa posum lakukan. Sedikit demi sedikit, Elie mulai termotivasi dan terinspirasi oleh sosok Many yang gagah ini. Setelah sekian lama bersama Many, akhirnya Elie pun menyadari bahwa dia bukanlah seekor posum yang hanya hidup di liang-liang kecil menjadi bangsa pengerat. Dia juga baru menyadari bahwa dia bisa melakukan banyak hal yang jauh lebih besar dibanding yang selama ini dia lakukan. Kehadiran Many telah mengubah kehidupan Elie, sehingga dia menemukan jati dirinya dan menjadi inspirasi terbesar dalam hidupnya.

****** **** *****
Seseorang kadang sebenarnya mempunyai potensi luar biasa yang bisa ia kembangkan. Tetapi karena dia hidup dan tinggal bersama lingkungan yang berpikiran kecil, maka dia pun tidak menyadari akan potensi dirinya. Bahkan untuk mempunyai impian pun tidak berani karena tidak percaya akan mampu meraihnya. Karenanya, tetaplah terbuka dengan hal-hal baru, lingkungan baru, dan juga orang-orang baru. Karena, bisa jadi lingkungan yang kita anggap nyaman hari ini adalah lingkungan keluarga posum, dan ketika kita bertemu orang baru, mungkin dia yang akan menyadarkan kita akan potensi sebenarnya yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Link tulisan lama: Mammoth dan keluarga Posum