Yuk berbagi cerita, tulisan, puisi, catatan, foto dll...yang ispiratif. Bisa jadi karena tulisan Anda, ada seseorang yang berubah hidupnya menjadi lebih baik lagi... who knows? At least, bisa membawa perubahan untuk diri sendiri. This blog is dedicated to everyone who wants to be more vivid in life.
Kamis, 24 Oktober 2013
ANGEL'S WISDOM (3)
Dari sebuah postingan di milist lama saya temukan sebuah kata-kata bijak, yang di situ disebutkan merupakan kata-kata dari Dalai Lama. Bagus untuk direnungkan, dan kita terapkan dalam kehidupan kita. Semoga bermanfaat.
"Berhati hatilah akan pikiranmu karena mereka akan menjadi perkataan.
Berhati hatilah pada kata-katamu karena mereka akan menjadi tindakan.
Berhati hatilah pada tindakan mu karena mereka akan menjadi kebiasaan."
@alden_praptono
Senin, 05 Agustus 2013
Senin, 15 Juli 2013
Just Share - SERI MENGAPA ILMU PENTING (2) ; KESERAKAHAN MONYET
KESERAKAHAN MONYET
Di Afrika para pemburu monyet menangkap binatang buruannya dengan cara yang unik agar monyet-monyet itu tertangkap tanpa cedera sedikitpun. Mereka menanam sebuah toples ke dalam tanah, dan hanya kelihatan lubangnya yang menyempit dari permukaan tanah. Kemudian di dalam toples kaca itu mereka taruh beberapa genggam biji-bijian yang sangat disukai monyet.
Monyet-monyet liar pun berdatangan begitu para pemburu sudah menjauh dari lokasi penjebakan. Mereka bisa mencium adanya makanan di dalam toples yang di tanam di dalam tanah. Serta merta para monyet pun berebut memasukkan tangan mereka ke dalam lubang toples yang sudah tertanam kokoh di dalam tanah, dengan dijepit bebatuan. Betapa girangnya monyet yang berhasil memasukkan tangannya karena dia mendapati bagitu banyak biji-bijian yang sangat mereka gemari. Jari-jari panjang monyet itu berusaha menggapai semua isi toples, semua ingin ia ambil tanpa sisa.
Sejenak sang monyet berhasil menggenggam sebagian besar isi toples itu, dan segera menarik tangannya. Namun apa yang terjadi? Rupanya tangan sang monyet menggenggam terlalu banyak makanan, dan genggaman itu terlalu besar untuk lubang toples. Monyet itu pun tidak bisa mengeluarkan tangannya dari toples karena jari-jari tangannya tetap menggenggam erat biji-bijian tanpa mau melepaskannya. Hingga pemburu datang pun si monyet tetap terkunci pada lubang toples dan tidak bisa lari. Tertangkaplah dia hidup-hidup.
Pesan dari kisah si monyet itu; andai saja si monyet tahu caranya untuk mendapatkan makanan tersebut dengan aman, yaitu dengan mengambil sedikit demi sedikit dari dalam toples dan bukannya serakah ingin dia ambil semua sekaligus, maka ia akan tetap aman dan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Sayangnya, monyet tidak tahu ilmu itu. Ia hanya mengikuti naluri saja, bahwa makanan yang ia temukan boleh diambil sesukanya. Akibatnya, justru ia terjebak pada genggaman tangan yang mengunci dan tidak bisa kemana-mana.
Marilah kita belajar dari monyet ini. Ada banyak hal dalam hidup kita yang ingin kita raih atau pun masalah yang ingin kita pecahkan. Manusia punya keterbatasan tenaga, pikiran, ruang dan waktu. Karena keterbatasan itulah maka agar menjadi lebih ringan dan mudah perlu kita lakukan secara bertahap, tidak mungkin semuanya bisa kita atasi secara serentak sekaligus. Jika kita serakah ingin membabat habis sekaligus, entah itu segala permasalahan hidup atau pun goal-goal kita, maka hasilnya justru seperti kera tadi, terjebak tidak bisa kemana-mana dan akhirnya hancur sendiri.
Ditulis kembali oleh Alden Praptono
@alden_praptono
Di Afrika para pemburu monyet menangkap binatang buruannya dengan cara yang unik agar monyet-monyet itu tertangkap tanpa cedera sedikitpun. Mereka menanam sebuah toples ke dalam tanah, dan hanya kelihatan lubangnya yang menyempit dari permukaan tanah. Kemudian di dalam toples kaca itu mereka taruh beberapa genggam biji-bijian yang sangat disukai monyet.
Monyet-monyet liar pun berdatangan begitu para pemburu sudah menjauh dari lokasi penjebakan. Mereka bisa mencium adanya makanan di dalam toples yang di tanam di dalam tanah. Serta merta para monyet pun berebut memasukkan tangan mereka ke dalam lubang toples yang sudah tertanam kokoh di dalam tanah, dengan dijepit bebatuan. Betapa girangnya monyet yang berhasil memasukkan tangannya karena dia mendapati bagitu banyak biji-bijian yang sangat mereka gemari. Jari-jari panjang monyet itu berusaha menggapai semua isi toples, semua ingin ia ambil tanpa sisa.
Sejenak sang monyet berhasil menggenggam sebagian besar isi toples itu, dan segera menarik tangannya. Namun apa yang terjadi? Rupanya tangan sang monyet menggenggam terlalu banyak makanan, dan genggaman itu terlalu besar untuk lubang toples. Monyet itu pun tidak bisa mengeluarkan tangannya dari toples karena jari-jari tangannya tetap menggenggam erat biji-bijian tanpa mau melepaskannya. Hingga pemburu datang pun si monyet tetap terkunci pada lubang toples dan tidak bisa lari. Tertangkaplah dia hidup-hidup.
Pesan dari kisah si monyet itu; andai saja si monyet tahu caranya untuk mendapatkan makanan tersebut dengan aman, yaitu dengan mengambil sedikit demi sedikit dari dalam toples dan bukannya serakah ingin dia ambil semua sekaligus, maka ia akan tetap aman dan berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan. Sayangnya, monyet tidak tahu ilmu itu. Ia hanya mengikuti naluri saja, bahwa makanan yang ia temukan boleh diambil sesukanya. Akibatnya, justru ia terjebak pada genggaman tangan yang mengunci dan tidak bisa kemana-mana.
Marilah kita belajar dari monyet ini. Ada banyak hal dalam hidup kita yang ingin kita raih atau pun masalah yang ingin kita pecahkan. Manusia punya keterbatasan tenaga, pikiran, ruang dan waktu. Karena keterbatasan itulah maka agar menjadi lebih ringan dan mudah perlu kita lakukan secara bertahap, tidak mungkin semuanya bisa kita atasi secara serentak sekaligus. Jika kita serakah ingin membabat habis sekaligus, entah itu segala permasalahan hidup atau pun goal-goal kita, maka hasilnya justru seperti kera tadi, terjebak tidak bisa kemana-mana dan akhirnya hancur sendiri.
Ditulis kembali oleh Alden Praptono
@alden_praptono
Jumat, 12 Juli 2013
Minggu, 26 Mei 2013
Just Share ; DOKTER ANGKUH?
Angel for professional
"DOKTER ANGKUH ?"
Seorang dokter tampak terburu-buru dan bergegas menuju ruang operasi..
Rupanya seorang anak yang dalam kondisi kritis harus dioperasi saat itu, dan telah menunggu di ruang bedah. Ayah dari anak yg akan dioperasi menghampiri dokter itu. Dengan wajah kesal ia bertanya, "Kenapa lama sekali Anda sampai ke sini? Apa Anda tidak tahu nyawa anak saya terancam jika tidak segera dioperasi?"
Dengan ramah dan berusaha sabar dokter itu menjawab, "Maaf, saya sedang tidak di RS tadi, tapi saya secepatnya ke sini setelah ditelepon pihak RS..."
Kemudian ia masuk ruang operasi. Setelah beberapa jam kemudian ia keluar dengan senyuman di wajahnya : "Alhamdulillah, keadaan anak Anda kini stabil..."
Tanpa menunggu jawaban sang ayah, dokter tersebut melanjutkan: "Suster akan membantu Anda jika ada yg ingin Anda tanyakan.." Dokter tersebut berlalu.
"Kenapa dokter itu angkuh sekali? Dia kan sepatutnya memberikan penjelasan langsung mengenai keadaan anak saya!" sang ayah berkata pada suster.
Sambil mengusap airmata yang meleleh suster menjawab :"Anak dokter tersebut meninggal dalam kecelakaan kemarin sore. Ia sedang menguburkan anaknya saat kami meneleponnya untuk melakukan operasi pada anak Anda. Sekarang anak Anda telah selamat. Namun ia harus kembali ke rumahnya segera pada istrinya....".
Nah!. JANGAN PΕRNΑН TERBURU-BURU MENILAI SESEORANG..
Tapi maklumilah tiap jiwa disekeliling kita yang menyimpan cerita kehidupan tak terbayangkan oleh kita ...
Αda air mata di balik setiap senyuman..
Αda kasih sayang di balik setiap amarah..
Αda pengorbanan di balik setiap ketidak pedulian..
Αda harapan di balik setiap kesakitan..
Αda kekecewaan di balik setiap derai tawa..
Semoga bermanfaat, agar kita menjadi manusia dengan rasa maklum yang semakin luas dan toleransi yang semakin tinggi...
INGAT, kita bukan manusia yang paling bermasalah di atas bumi ini...
Note :
Tulisan tersebut dari milist indonesia-online. Diposting oleh Pramono Dewo. Pada beberapa bagian telah saya lakukan pengeditan.
- Alden Praptono -
@alden_praptono
Langganan:
Postingan (Atom)





